BEIJING – Ketegangan dalam perang dagang global kembali memanas setelah China mengumumkan tarif tambahan sebesar 34% terhadap berbagai barang impor dari Amerika Serikat mulai 10 April 2025.
Langkah ini merupakan respons keras terhadap kebijakan tarif besar-besaran yang sebelumnya diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, yang telah memicu gejolak di pasar keuangan global dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi resesi.
Selain itu, Beijing juga menerapkan pembatasan ekspor pada beberapa logam tanah jarang serta menambahkan 11 entitas asing ke dalam daftar “entitas tidak dapat dipercaya”, termasuk perusahaan yang terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan.
Negara Lain Ikut Terimbas
Tidak hanya Amerika Serikat dan China yang terdampak, negara-negara lain seperti Kanada dan anggota Uni Eropa kini juga mempertimbangkan langkah balasan atas eskalasi perang dagang ini.
Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, menegaskan bahwa blok tersebut tidak akan bertindak gegabah dan masih membuka peluang negosiasi untuk mencari kesepakatan yang adil bagi kedua belah pihak.
Namun, respons Uni Eropa masih terpecah. Beberapa negara, seperti Irlandia, Italia, dan Polandia, cenderung lebih hati-hati dalam mengambil langkah balasan, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyerukan pembekuan investasi di AS sebagai bentuk tekanan ekonomi.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Prancis, Eric Lombard, mengingatkan bahwa tindakan pembalasan yang setara dengan tarif AS dapat merugikan konsumen Eropa.
“Kami sedang menyusun paket kebijakan yang lebih luas, yang dapat lebih efektif dalam membawa AS kembali ke meja perundingan,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan BFM TV seperti dikutip Reuters, Jumat (04/04/2025).
Pasar Keuangan Tertekan
Ketegangan perdagangan ini berdampak langsung pada pasar saham global. Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Nvidia, yang memiliki eksposur signifikan di China dan Taiwan, mengalami penurunan saham lebih dari 6% dalam perdagangan pra-pasar.
Sektor perbankan juga tidak luput dari tekanan, dengan saham bank investasi utama seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs anjlok antara 6% hingga 7,3%.
Investor khawatir bahwa perang tarif ini dapat memperlemah sentimen konsumen dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Bank investasi JP Morgan kini memperkirakan peluang resesi global meningkat hingga 60% pada akhir tahun, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 40%.
Di Jepang, Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengungkapkan bahwa dampak perang dagang ini telah menciptakan “krisis nasional” bagi sektor keuangan negara tersebut, dengan pasar saham Tokyo mengalami minggu terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan Trump Dipertanyakan
Di tengah gejolak pasar dan ketidakpastian ekonomi, pemerintah AS memberikan sinyal yang beragam mengenai tujuan akhir kebijakan tarif ini.
Presiden Donald Trump menyebut bahwa tarif yang diterapkan “memberi kekuatan besar untuk bernegosiasi”, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berusaha meredam kekhawatiran dengan mengatakan bahwa pasar hanya bereaksi terhadap perubahan dramatis dalam tatanan global.
Namun, banyak pihak yang mempertanyakan apakah tarif ini akan menjadi permanen atau sekadar alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan.
Para analis memperingatkan bahwa kebijakan tarif AS dapat berdampak langsung pada harga barang konsumsi, mulai dari pakaian hingga elektronik, dengan kemungkinan kenaikan harga iPhone hingga $2.300 jika Apple meneruskan biaya tambahan kepada konsumen.***
