BANGKOK, THAILAND – Tragedi crane roboh kembali mengguncang Thailand. Kali ini, insiden tersebut menewaskan dua orang di jalan raya pinggiran Bangkok, hanya sehari setelah kecelakaan serupa menewaskan 32 orang dalam insiden kereta api.
Kejadian nahas terjadi pada Kamis, 15 Januari 2026, di wilayah Samut Sakhon, tepatnya di proyek pembangunan jalan tol layang Motorway No. 82 atau Rama II Expressway. Rekaman video yang beredar memperlihatkan momen ketika alat berat crane beserta balok beton ambruk ke badan jalan, menghantam sejumlah kendaraan, memicu awan debu tebal, serta puing-puing berserakan di lokasi.
Insiden ini menjadi babak baru dari rangkaian kecelakaan fatal yang melibatkan perusahaan konstruksi raksasa Italian-Thai Development (ITD). Perusahaan yang sama sebelumnya mengerjakan proyek jalur kereta cepat Bangkok–Nong Khai di Provinsi Nakhon Ratchasima. Pada Rabu, 14 Januari 2026, crane milik ITD runtuh dan menimpa gerbong kereta penumpang yang sedang melaju, menyebabkan 32 orang tewas dan lebih dari 60 orang luka-luka.
Dalam pernyataan resmi kepada Bursa Efek Thailand pada Kamis sore, 15 Januari 2026, manajemen Italian-Thai Development menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban dan keluarga. Perusahaan menegaskan akan bertanggung jawab penuh atas kompensasi dan saat ini tengah menghitung total kerugian.
“Pihak perusahaan akan meninjau dan meningkatkan langkah-langkah keselamatan agar lebih menyeluruh dan ketat di masa mendatang,” tulis pernyataan tersebut, sebagaimana dilansir BBC.
Lokasi kecelakaan di Rama II Road, Samut Sakhon, kerap dijuluki media lokal sebagai “Jalan Kematian” karena catatan panjang kecelakaan fatal dalam beberapa tahun terakhir. Tragedi beruntun ini kembali menyoroti buruknya keselamatan sektor konstruksi di Thailand, yang banyak dipicu oleh lemahnya pengawasan dan penegakan regulasi. Dalam tujuh tahun terakhir, sekitar 150 orang dilaporkan tewas dalam berbagai insiden di proyek infrastruktur jalan raya dari Bangkok menuju wilayah selatan.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, bereaksi keras atas insiden tersebut. Ia menyatakan akan menindak tegas segala bentuk kelalaian dan telah menginstruksikan Kementerian Perhubungan untuk membatalkan kontrak dengan Italian-Thai Development pada dua proyek terkait. Pemerintah juga berencana memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam agar tidak lagi mendapatkan tender pemerintah.
Selain itu, proses hukum pidana terhadap ITD akan dilanjutkan. “Ini adalah peristiwa yang mengejutkan publik dan menimbulkan risiko besar terhadap aset serta keselamatan masyarakat,” ujar Anutin.
Otoritas Kereta Api Thailand turut menyatakan akan mengajukan gugatan terhadap ITD. Pemerintah juga memerintahkan penghentian sementara selama 15 hari terhadap 14 proyek besar yang dikerjakan perusahaan tersebut untuk menjalani inspeksi keselamatan menyeluruh.
Ini bukan kali pertama Italian-Thai Development tersandung masalah serius. Tahun lalu, presiden perusahaan bersama sejumlah desainer dan insinyur didakwa atas kelalaian profesional setelah sebuah gedung pencakar langit di Bangkok runtuh saat gempa bumi, sementara bangunan di sekitarnya tetap utuh.
Rentetan kejadian ini memicu kemarahan publik dan memperkuat tuntutan akan reformasi mendalam di sektor konstruksi Thailand guna mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
