JAKARTA – Fabio Di Giannantonio mengakui kesulitan beradaptasi dengan Ducati Desmosedici GP25 sepanjang musim MotoGP 2025. Meski memiliki akses penuh terhadap data Marc Marquez, meniru pengaturan sang juara dunia bukanlah solusi.
Pada musim lalu, pembalap VR46 Ducati itu meraih sepuluh podium dari sprint dan Grand Prix. Namun, inkonsistensi membuatnya hanya finis di posisi keenam klasemen akhir. Sementara itu, Marquez tampil dominan dan mengunci gelar lebih awal di Jepang, sedangkan Pecco Bagnaia juga menghadapi masalah serupa dengan GP25.
Di Ducati, seluruh pembalap berbagi data secara transparan. Namun, Di Giannantonio menegaskan bahwa setiap rider memiliki gaya kerja dan gaya balap berbeda.
“Masalahnya adalah setiap pembalap bekerja dan berkendara dengan cara yang berbeda,” ujarnya kepada Crash.net, Jumat (9/1/2026). “Saya mempelajari pembalap lain dan mencoba meningkatkan kemampuan di area di mana mereka lebih baik dari saya. Tetapi saya tidak akan pernah bisa meniru persis gaya kerja atau gaya berkendara mereka. Anda bisa meniru setup-nya, tetapi berkendara dengan setup tersebut adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.”
Menurutnya, harmoni antara motor dan pembalap adalah kunci. “Jika saya meniru pengaturan Marc, saya pasti akan finis terakhir,” tegas Diggia. “Ini tentang apa yang Anda tuntut dari motor, apa yang Anda tuntut dari tim, apa yang Anda butuhkan untuk merasa nyaman, untuk mendorong, dan untuk mempercayai motor.”
