JAKARTA – Lebih dari 3.000 tokoh diaspora Yahudi menandatangani surat terbuka kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, mendesaknya untuk menghentikan serangan pemukim ekstremis terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Dilansid dari The Guardian, Jumat (3/4/2026), surat yang difasilitasi oleh London Initiative, jaringan Zionis liberal, ditandatangani oleh diplomat, filantropis, rabi, dan akademisi dari berbagai negara, termasuk mantan menteri luar negeri Inggris Malcolm Rifkind. Surat ini muncul setelah serangkaian pembunuhan dan serangan pembakaran oleh pemukim pada Maret.
Isi surat menegaskan, “Pasukan keamanan Israel jelas lebih mampu melindungi warga sipil Palestina di Tepi Barat … dari teror Yahudi. Fakta bahwa mereka tidak bertindak tegas menunjukkan kurangnya arahan dari pemerintah.”
Surat itu juga menyebut kekerasan pemukim sebagai “kekejian” yang merusak masa depan Israel dan hubungan komunitas Yahudi dunia.
Penandatangan dari Inggris antara lain Matthew Gould, Lord Michael Levy, Daniel Finkelstein, Dame Vivien Duffield, dan Sir Mick Davis. Dari luar Inggris, tercatat nama Charles Bronfman, Ilan Sztulman Starosta, Michael M Adler, dan Jon Allen.
Menanggapi surat tersebut, Herzog menulis di X bahwa ia berbagi keprihatinan atas “lonjakan kekerasan baru-baru ini oleh elemen ekstremis di Yudea dan Samaria” dan menegaskan telah meminta pihak berwenang “menggunakan semua cara yang tersedia untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.”
Herzog menekankan bahwa “kekerasan dan tindakan main hakim sendiri” bukan hanya kejahatan terhadap warga tak bersalah, tetapi juga mengganggu upaya Israel menghadapi ancaman teror. Ia menambahkan, kekerasan pemukim justru memperkuat penentang Israel dan memicu kebencian global terhadap bangsa Yahudi.
Surat ini mengikuti seruan serupa pada Agustus 2025 kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang ditandatangani 6.300 orang Yahudi di seluruh dunia, menuntut penghentian perang di Gaza dan penegakan hukum di Tepi Barat. Para penandatangan menilai sejak saat itu situasi hanya semakin memburuk, terutama selama perang dengan Iran.