JAKARTA – Pelatih Mikel Arteta kini menghadapi keputusan paling menentukan dalam perburuan gelar Premier League musim ini setelah jeda internasional.
Arsenal memasuki fase akhir musim dengan tekanan tinggi karena setiap pertandingan tersisa ibarat final yang wajib dimenangkan demi menjaga jarak dari pesaing utama seperti Manchester City.
Dalam situasi genting tersebut, satu nama kembali menjadi sorotan utama yakni Martin Ødegaard yang diyakini sebagai kunci kreativitas lini serang The Gunners.
Meski musim ini berjalan tidak mulus bagi Ødegaard akibat cedera dan performa yang sempat menurun, perannya sebagai kreator peluang tetap tak tergantikan di skuad Arsenal.
Gelandang asal Norwegia itu bahkan masih mampu menembus jajaran 10 besar pemain dengan jumlah umpan ke kotak penalti terbanyak di liga, sebuah statistik yang menegaskan pentingnya kehadirannya.
Dengan kondisi fisik yang mulai pulih usai jeda internasional, Arsenal berpeluang mendapatkan kembali sosok Ødegaard yang selama ini dirindukan suporter.
Kehadirannya menjadi semakin krusial mengingat lini serang Arsenal musim ini kerap dinilai kurang tajam meski pertahanan tampil relatif solid.
Perdebatan pun muncul ketika nama Kai Havertz dianggap sedang berada dalam performa lebih baik dibanding Ødegaard.
Havertz dinilai cocok dimainkan bersama Viktor Gyökeres, yang memunculkan opsi perubahan komposisi lini tengah dengan mengorbankan posisi Ødegaard.
Namun secara karakter permainan, Havertz belum mampu menghadirkan kreativitas dan visi bermain sekelas Ødegaard dalam membangun serangan.
Perbedaan mencolok pun terlihat saat Arsenal bermain dengan dan tanpa sang kapten, terutama dalam hal aliran bola menuju lini depan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Arsenal terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan dan cenderung kehilangan sentuhan akhir di sepertiga akhir lapangan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Arsenal sedang berada di ambang penurunan performa di momen paling krusial musim.
Untuk memastikan peluang juara tetap terbuka, Arsenal membutuhkan peningkatan produktivitas gol yang selama ini menjadi titik lemah mereka.
Salah satu masalah utama yang belum sepenuhnya teratasi adalah minimnya koneksi efektif antara lini tengah dan lini serang.
Upaya taktik sudah dilakukan dalam berbagai variasi, namun belum ada solusi yang benar-benar mampu mengisi peran penghubung tersebut secara konsisten.
Absennya Ødegaard dalam beberapa laga sebelumnya dinilai sebagai faktor utama dari terputusnya alur serangan Arsenal.
Situasi ini membuat keputusan Arteta menjadi sangat sensitif karena kesalahan kecil bisa berdampak besar terhadap hasil akhir musim.
Di sisi lain, memainkan Ødegaard bukanlah eksperimen, melainkan langkah logis mengingat statusnya sebagai salah satu pemain kelas dunia di skuad Arsenal.
Kontribusi kecil berupa tambahan peluang setiap pertandingan bisa menjadi pembeda dalam persaingan ketat perebutan gelar.
Dengan demikian, keputusan terkait peran Ødegaard diyakini akan menjadi salah satu faktor penentu apakah Arsenal mampu mengakhiri musim sebagai juara.***