Kabar duka datang dari Rumah Sakit Beirut. Kopral Rico Pramudia, personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi UNIFIL, mengembuskan napas terakhirnya setelah sempat berada dalam kondisi kritis. Rico menjadi korban keganasan ledakan proyektil yang menghantam pos PBB di Adchit Al Qusayr saat agresi Israel berkecamuk.
Pihak UNIFIL secara resmi mengumumkan kabar pahit ini melalui akun media sosial mereka, sekaligus menyampaikan simpati terdalam bagi rakyat dan pemerintah Indonesia.
“Kehilangan ini tragis dan tak tergantikan. Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga, kolega, serta Pemerintah Republik Indonesia,” tulis pernyataan resmi UNIFIL, Jumat (24/4/2026).
Pelanggaran Berat Hukum Internasional
Kematian Rico Pramudia memicu gelombang protes diplomatik. UNIFIL dengan tegas menyatakan bahwa serangan yang menyasar pasukan penjaga perdamaian bukan sekadar kecelakaan, melainkan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
PBB memperingatkan bahwa serangan sengaja terhadap personel mereka dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Mereka menuntut seluruh pihak yang bertikai untuk menjamin keamanan properti dan nyawa para “Helm Biru” yang bertugas di zona konflik.
Daftar Pahlawan Garuda yang Gugur
Gugurnya Kopral Rico Pramudia menambah luka mendalam bagi korps TNI. Ia merupakan prajurit keempat yang tewas di tengah pecahnya perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Sebelumnya, tiga rekan seperjuangannya telah lebih dulu gugur dan dimakamkan dengan penghormatan negara:
-
Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar
-
Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan
-
Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon
Prosesi pemakaman ketiga pahlawan sebelumnya dihadiri langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara atas pengabdian mereka. Kini, publik menanti kepulangan jenazah Kopral Rico ke tanah air untuk memberikan penghormatan terakhir bagi sang penjaga perdamaian dunia.