JAKARTA – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa program 30 Juta Rumah yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto bukan hanya sekadar wacana. Program ini memiliki target sebanyak membangun 30 juta unit rumah dan apartemen.
“Program ini targetnya adalah 3 juta rumah dan apartemen setiap tahun. Ini bukan program 3 juta rumah, ini program 15 juta rumah dan apartemen. Kalau Presiden Prabowo diberi mandat lagi, bisa dilanjutkan lagi 5 tahun, jadi nanti target kita 30 juta proyek rumah dan apartemen,” jelas Hashim yang juga Utusan Khusus Presiden di Bidang Iklim dan Energi.
Fokus pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Program 3 Juta Rumah ini ditujukan khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau menengah ke bawah. Hashim menegaskan bahwa program ini merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo, selain Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Program ini diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang selama ini kesulitan mendapatkan tempat tinggal layak,” ujar Hashim.
Belajar dari Pengalaman Negara Lain
Hashim mengungkapkan bahwa Program 3 Juta Rumah terinspirasi dari keberhasilan negara-negara seperti China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Di negara-negara tersebut, sektor perumahan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi.
“Saya belajar dari pengalaman di China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Di sana, perumahan menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Bahkan, pada tahun 2017, sektor perumahan menyumbang 25 persen dari GDP China,” kata Hashim.
Dukungan Modal dari Dalam dan Luar Negeri
Meskipun target pembangunannya besar, Hashim menegaskan bahwa modal untuk membangun rumah melimpah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu sumber dana berasal dari Bank Indonesia yang siap menyediakan Rp 130 triliun untuk sektor perumahan.
“Saya dengar Bank Indonesia bersedia menyediakan Rp 130 triliun untuk mendukung sektor perumahan. Itu keputusan Pak Perry Warjiyo (Gubernur BI) minggu lalu. Dananya semua dari dalam negeri,” sebut Hashim.
Selain itu, dukungan juga datang dari BPJS dan Surat Berharga Negara (SBN) yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Tidak hanya dari dalam negeri, Program 3 Juta Rumah juga mendapat dukungan dari negara-negara asing seperti Qatar, India, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Turki.
“Dana bakal ada dari investor, banyak. India bersedia, Singapura bersedia, saya baru dapat proposal dari Turki,” ungkap Hashim.
Realisasi Investasi dari Qatar
Salah satu realisasi investasi terbesar datang dari Qatar. Hashim mengungkapkan bahwa Qatar akan memulai pembangunan 1 juta apartemen di perkotaan dan 3-5 juta apartemen serta rumah di pedesaan mulai April 2025. Nilai investasinya mencapai 18-20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 294-327 triliun (kurs Rp 16.375).
“Ini akan segera dimulai bulan April setelah Lebaran. Investor dari Qatar bawa modal untuk bangun 1 juta apartemen. Ini satu pengusaha dengan kawan-kawannya dari Qatar bawa modal untuk bangun 1 juta apartemen. Kurang lebih nilainya 18-20 miliar dollar. Nanti akan dibawa lagi dari pemerintah Qatar 3-5 juta apartemen dan rumah di pedesaan,” tutur Hashim.
Dampak Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi
Hashim optimis bahwa Program 3 Juta Rumah tidak hanya akan menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat, tetapi juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. “Seperti yang terjadi di negara-negara lain, sektor perumahan bisa menjadi penggerak ekonomi yang signifikan,” ujarnya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri, Program 3 Juta Rumah diharapkan dapat menjadi solusi bagi masalah perumahan di Indonesia sekaligus menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional.