Dunia sedang tidak baik-baik saja. Sejak dentum bom pertama pecah pada 28 Februari 2026 dalam konflik Iran melawan AS-Israel, guncangan ekonominya telah sampai ke depan pintu rumah kita di Asia. Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu militer, melainkan “cekikan” pada nadi energi dunia yang membuat harga minyak melambung di atas US$100 per barel.
- 1. Filipina: Kebijakan 4 Hari Kerja
- 2. Thailand: Kantor Tanpa AC & SPBU Tutup Cepat
- 3. Vietnam: Antrean “Horor” di SPBU
- 4. India: Krisis di Meja Makan
- 5. Indonesia: Rupiah Melemah & Umrah Tertahan
- 6. Palestina (Gaza): Pangan Menjadi Barang Mewah
- 7. Bangladesh: Sekolah Diliburkan Lebih Awal
- 8. Uni Emirat Arab: Turis Terjebak & Denda Dihapus
Dari kebijakan kerja singkat hingga sekolah yang diliburkan, berikut adalah rangkuman bagaimana negara-negara tetangga kita sedang berjuang bertahan hidup di tengah badai energi global.
1. Filipina: Kebijakan 4 Hari Kerja
Presiden Marcos Jr mengambil langkah radikal dengan menetapkan empat hari kerja sepekan mulai 9 Maret untuk menekan konsumsi energi. Dengan 96% kebutuhan minyak bergantung pada Teluk Persia, Filipina kini bersiap menghadapi lonjakan harga bensin hingga 7 peso dan solar 17 peso per liter. “Kita adalah korban perang yang bukan kemauan kita,” cetus Marcos.
2. Thailand: Kantor Tanpa AC & SPBU Tutup Cepat
Pemerintah Thailand meminta suhu AC kantor dinaikkan ke 27 derajat Celsius. Jika situasi memburuk, jangan kaget jika papan reklame di Bangkok gelap gulita dan SPBU tutup pukul 22.00 malam. Thailand juga mulai beralih ke diesel berbasis minyak sawit demi mengurangi ketergantungan impor.
3. Vietnam: Antrean “Horor” di SPBU
Pemandangan antrean satu jam di SPBU mulai menjadi pemandangan biasa di Hanoi dan Ho Chi Minh City. Meskipun belum krisis nasional, puluhan SPBU kecil sudah mulai tutup karena kehabisan stok. Warga kini diimbau beralih ke sepeda atau transportasi umum.
4. India: Krisis di Meja Makan
Jaringan restoran besar seperti California Burrito mengaku hanya memiliki stok gas LPG untuk dua hari. Kelangkaan ini terjadi karena Qatar menghentikan produksi LNG. India kini membentuk panel khusus untuk menyelamatkan industri kuliner mereka dari “mati dapur”.
5. Indonesia: Rupiah Melemah & Umrah Tertahan
Meski jauh dari lokasi perang, dampaknya nyata: Rupiah sempat tersungkur ke angka Rp17.000. Di sektor pariwisata, 35 jadwal penerbangan internasional di Bali batal, dan ribuan jemaah umrah sempat terdampar di Timur Tengah akibat ruang udara yang tertutup.
6. Palestina (Gaza): Pangan Menjadi Barang Mewah
Warga Gaza kini tak mampu lagi membeli sayuran. Harga pangan melonjak drastis karena bantuan logistik yang masuk hanya sepertiga dari kondisi normal. Perang Iran-Israel benar-benar memutus jalur hidup bagi warga yang sudah terjepit.
7. Bangladesh: Sekolah Diliburkan Lebih Awal
Pemerintah Bangladesh memutuskan meliburkan seluruh lembaga pendidikan lebih awal dari jadwal Idulfitri. Langkah ini diambil murni untuk menghemat pemakaian listrik di gedung-gedung sekolah dan mengurangi mobilitas kendaraan.
8. Uni Emirat Arab: Turis Terjebak & Denda Dihapus
UEA menjadi titik panas gangguan penerbangan. Kabar baiknya, pemerintah memberikan ampunan denda overstay bagi turis yang tertahan akibat pembatalan penerbangan sejak 28 Februari lalu.