Sentimen negatif kembali menekan pasar modal Indonesia. Bank investasi global Goldman Sachs resmi menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, hanya sehari setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investabilitas di pasar saham Tanah Air.
Langkah ini memperburuk kondisi pasar yang sebelumnya sudah terpukul oleh aksi jual besar-besaran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025, memicu kekhawatiran lanjutan di kalangan investor.
Dalam laporan risetnya, analis Goldman Sachs—termasuk Timothy Moe—memperkirakan tekanan jual, terutama dari investor pasif, masih akan berlanjut dan menjadi penghambat kinerja pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.
Goldman memproyeksikan arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia pasca-penilaian MSCI bisa mencapai US$2,2 miliar hingga US$7,8 miliar. Bahkan dalam skenario ekstrem, jika Indonesia diturunkan statusnya menjadi frontier market, total arus keluar berpotensi menembus US$13 miliar. Angka tersebut mencakup potensi tambahan US$5,6 miliar apabila FTSE Russell turut meninjau ulang metodologi indeksnya.
IHSG Ambruk dan Trading Halt
Tekanan pasar langsung terasa di lantai bursa. Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok 7,35% ke level 8.320,56. Indeks bahkan sempat merosot lebih dari 8%, sehingga memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) selama 30 menit.
Namun, setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan jual belum mereda. IHSG kembali terkoreksi hingga 8,76% dan menyentuh level 8.193,77.
Aksi jual ini dipicu keputusan MSCI yang membekukan pembaruan indeks untuk sekuritas Indonesia guna memitigasi apa yang disebut sebagai “risiko investabilitas”. MSCI tidak mengizinkan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), penambahan jumlah saham, maupun promosi emiten dari indeks kecil ke indeks standar, hingga persoalan transparansi struktur kepemilikan saham diselesaikan.
Investor global menyoroti masih buramnya data kepemilikan saham di Indonesia, termasuk kekhawatiran terhadap perdagangan terkoordinasi yang berpotensi mengganggu pembentukan harga yang wajar.
Pada hari yang sama, investor asing tercatat melakukan net sell Rp6,17 triliun, menjadi arus keluar harian terbesar sejak April 2025. Sepanjang 2025, total penjualan bersih asing mencapai Rp13,96 triliun, menjadikan tahun tersebut sebagai yang terburuk sejak 2020 dari sisi arus modal keluar.
Respons Pemerintah dan Regulator
Menanggapi gejolak pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi atas masukan MSCI dan menekankan pentingnya peningkatan transparansi kepemilikan saham free float.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tekanan pasar sebagai “shock sesaat” dan mengimbau investor untuk tidak bereaksi berlebihan.
“Sebelum bulan Mei, harusnya sekarang it’s a good time to buy,” ujar Purbaya, seraya menyatakan keyakinannya bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan standar MSCI.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menegaskan perlunya tindak lanjut cepat terhadap catatan MSCI. Di sisi lain, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengakui bahwa penyempurnaan data free float masih membutuhkan waktu dan belum sepenuhnya sesuai dengan metodologi MSCI.
MSCI sendiri memperingatkan, jika tidak ada perbaikan signifikan hingga Mei 2026, Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market—sebuah skenario yang berpotensi memicu tekanan lebih besar terhadap pasar modal nasional.



