KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Malaysia Airlines tengah menjajaki peluang emas untuk mengakuisisi pesawat Boeing 737 MAX yang batal dibeli maskapai penerbangan China. Langkah ini muncul di tengah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China, yang membuat sejumlah pesawat Boeing dikembalikan ke AS.
Peluang ini menjadi angin segar bagi Malaysia Airlines untuk mempercepat modernisasi armadanya.
Menurut laporan South China Morning Post (21/4/2025), Boeing menjadi salah satu korban perang dagang AS-China. Pemerintah China dikabarkan memerintahkan maskapai di negaranya untuk menghentikan pembelian pesawat Boeing sebagai respons atas tarif impor tinggi dari AS. Akibatnya, beberapa pesawat Boeing 737 MAX yang telah diproduksi untuk maskapai China terpaksa dipulangkan ke Amerika Serikat.
“Kami sedang berdiskusi dengan Boeing tentang apakah kami dapat mengambil alih slot tersebut,” kata Kepala Eksekutif Malaysia Aviation Group, Izham Ismail, kepada Bernama.
Pernyataan ini menunjukkan ambisi Malaysia Airlines untuk memanfaatkan situasi ini demi memperkuat armadanya.
Peluang Strategis di Tengah Krisis
Perang dagang AS-China telah menciptakan situasi yang tidak biasa di industri penerbangan global. China, yang menyumbang sekitar 20% permintaan pesawat global dalam dua dekade mendatang, kini beralih strategi. Maskapai China tidak hanya menunda pembelian pesawat Boeing, tetapi juga menghentikan pembelian suku cadang dan peralatan dari perusahaan AS.
Di sisi lain, Malaysia Airlines melihat ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan pesawat baru lebih cepat dari jadwal. Izham Ismail menjelaskan bahwa MAG berencana mengoperasikan 55 pesawat berbadan sempit Boeing 737 MAX generasi baru pada 2030. Akuisisi slot pengiriman yang ditinggalkan China bisa mempercepat target ini.
Namun, tantangannya tidak kecil. Pesawat yang sudah diproduksi untuk maskapai China memiliki konfigurasi kabin yang disesuaikan dengan pemesan awal, sehingga memerlukan penyesuaian agar sesuai dengan standar Malaysia Airlines. Selain itu, pendanaan akuisisi ini kemungkinan akan melibatkan pasar modal, seperti yang diungkapkan Ismail.
Persaingan Ketat dengan Maskapai Lain
Malaysia Airlines bukan satu-satunya yang membidik peluang ini. Air India, misalnya, juga dilaporkan tertarik mengambil alih pesawat Boeing 737 MAX yang ditolak China untuk mempercepat ekspansi armada mereka. Menurut sumber internal Air India, maskapai tersebut bahkan telah menerima 41 unit 737 MAX yang awalnya dialokasikan untuk China sejak 2019.
Persaingan ini menunjukkan betapa berharganya slot pengiriman pesawat di tengah krisis rantai pasok global dan pengawasan ketat terhadap produksi Boeing.
Boeing di Persimpangan Jalan
Bagi Boeing, situasi ini menambah daftar tantangan yang sudah dihadapi perusahaan. Selain dampak perang dagang, Boeing juga berjuang dengan masalah keamanan, gugatan hukum, dan pemogokan pekerja dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, China merupakan pasar strategis yang menyumbang hampir seperempat penjualan pesawat Boeing pada 2018.
Dengan boikot dari China, Boeing kini harus berpaling ke pasar lain, termasuk maskapai seperti Malaysia Airlines dan Air India, untuk menyerap stok pesawat yang belum terkirim.
Modernisasi Armada Malaysia Airlines
Bagi Malaysia Airlines, langkah ini adalah bagian dari strategi besar untuk merevitalisasi armada mereka yang sudah mulai menua. Dengan mengoperasikan pesawat Boeing 737 MAX yang lebih efisien dan ramah lingkungan, maskapai ini berharap dapat meningkatkan daya saing di pasar penerbangan regional dan global. Selain itu, akuisisi ini juga bisa membantu Malaysia Airlines mengatasi keterlambatan pengiriman pesawat baru akibat gangguan rantai pasok pasca-pandemi.
Apa Arti Ini untuk Penumpang?
Bagi penumpang, modernisasi armada berarti pengalaman terbang yang lebih nyaman dan efisien. Boeing 737 MAX dikenal dengan teknologi canggih, konsumsi bahan bakar yang lebih rendah, dan kabin yang lebih modern. Jika Malaysia Airlines berhasil mengakuisisi pesawat ini, penumpang bisa menikmati penerbangan dengan fasilitas lebih baik dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah ke Depan
Keputusan Malaysia Airlines untuk mengejar slot pengiriman pesawat Boeing eks China menunjukkan strategi cerdas di tengah ketidakpastian global. Meski penuh tantangan, langkah ini berpotensi mengubah dinamika armada maskapai nasional Malaysia. Dengan persaingan ketat dan dinamika geopolitik yang terus berkembang, semua mata kini tertuju pada bagaimana Malaysia Airlines dan Boeing menavigasi peluang ini.
