JAKARTA – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun atau meningkat dibanding Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global sepanjang paruh pertama 2026.
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp6.552,1 triliun, dan atas dasar harga konstan (ADHK) Rp3.576,2 triliun,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Pulau Jawa masih menjadi motor utama ekonomi nasional dengan kontribusi 56,47 persen terhadap struktur perekonomian Indonesia.
Wilayah Jawa juga membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Sektor manufaktur turut memperlihatkan prospek positif setelah Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur mencapai 52,31.
Capaian indeks tersebut berada pada zona ekspansi sekaligus menguat dibanding triwulan sebelumnya.
Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja juga menunjukkan perbaikan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Mei 2026.
Lalu jumlah angkatan kerja meningkat menjadi 155,41 juta orang atau bertambah sekitar 497 ribu orang dibanding Februari 2026.
Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 4,65 persen atau lebih rendah 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Indikator kesejahteraan masyarakat ikut membaik dengan penurunan jumlah penduduk miskin pada Maret 2026.
Jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang atau berkurang sekitar 430 ribu orang dibanding September 2025.
Garis Kemiskinan
Pada sisi garis kemiskinan nasional berada di angka Rp669.235 per kapita setiap bulan.
Komponen makanan menyumbang Rp499.886 atau sekitar 74,70 persen dari garis kemiskinan nasional.
Komponen bukan makanan berkontribusi Rp169.349 atau sekitar 25,30 persen terhadap garis kemiskinan.
Persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan turun menjadi 6,34 persen dari sebelumnya 6,60 persen.
Persentase kemiskinan di wilayah perdesaan juga turun menjadi 10,67 persen dari sebelumnya 10,72 persen.
Ketimpangan pendapatan di kawasan perkotaan tercermin dari gini ratio sebesar 0,387.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding September 2025 namun masih lebih rendah daripada posisi Maret 2025.
Gini ratio di kawasan perdesaan tercatat sebesar 0,296.
Nilai tersebut sedikit meningkat dibanding September 2025 tetapi tetap lebih rendah dibanding Maret 2025.
Secara keseluruhan, indikator ekonomi triwulan II 2026 memperlihatkan pertumbuhan yang tetap solid disertai perbaikan pada pasar kerja dan tingkat kemiskinan.***


