JAKARTA – Wall Street mengawali perdagangan Selasa (4/8/2026) dengan reli kuat setelah pelaku pasar menyambut positif laporan keuangan perusahaan besar dan optimisme tercapainya kesepakatan terkait Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat sekitar 1.000 poin hingga kembali mencetak rekor tertinggi untuk hari kedua secara berturut-turut.
Sementara itu, indeks S&P 500 naik hampir 2 persen dan berpeluang menorehkan rekor baru seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.
Indeks Nasdaq Composite juga menguat lebih dari 2 persen berkat kenaikan saham-saham sektor teknologi yang mendominasi perdagangan.
Sentimen positif turut didorong oleh pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran.
“Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai hari ini atau besok.” kata Scott Bessent dikutip The Wall Street Journal, Rabu.
Optimisme tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi distribusi minyak dunia sehingga setiap perkembangan negosiasi langsung memengaruhi pergerakan harga energi global.
Di sisi lain, musim laporan keuangan perusahaan menjadi faktor tambahan yang mengangkat indeks saham Amerika Serikat.
Kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan berhasil dibukukan oleh Palantir Technologies dan Caterpillar sehingga meningkatkan kepercayaan investor.
Di kawasan Timur Tengah, perusahaan energi Saudi Aramco dan BP juga membukukan keuntungan yang terdongkrak kenaikan harga minyak sebelumnya.
Meski demikian, harga minyak mentah kembali terkoreksi setelah muncul harapan meredanya ketegangan geopolitik.
Minyak Brent sebagai acuan internasional turun sekitar 5 persen menjadi 79,44 dolar AS per barel.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp16.900 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,34 juta per barel.
Sebelum pernyataan Scott Bessent, pasar sempat dibayangi ketidakpastian akibat pesan yang saling bertentangan mengenai proses negosiasi serta insiden baru di kawasan Selat Hormuz.
Pelaku pasar juga menantikan laporan keuangan kuartalan perdana dari SpaceX yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan.
Laporan tersebut diperkirakan menjadi perhatian investor karena akan memberikan gambaran terbaru mengenai kinerja perusahaan antariksa milik Elon Musk.
Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan itu terjadi setelah dampak intervensi bersama pemerintah Amerika Serikat dan Jepang pada pekan sebelumnya mulai memudar.
Kondisi tersebut menunjukkan fokus investor kini beralih dari pasar mata uang menuju perkembangan negosiasi geopolitik dan kinerja emiten global.***