JAKARTA – Presiden Türkiye, Recep Tayyip Erdogan menegaskan Israel tengah “menginjak-injak nilai-nilai bersama kemanuisaan” melalui kejahatan kemanusiaan yang dilakukan di Gaza.
Ia menekankan perlunya reformasi terhadap tatanan global yang dianggap rapuh menghadappi krisis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam artikel berjudul “Kunci Perdamaian di Eurasia: Dunia Türkiye” yang ditulis untuk kantor berita Kazakhstan, Kazinform, usai kunjungannya ke Astana menghadiri pertemuan Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi Türkiye-Kazakhstan.
Erdogan menyoroti konflik regional, risiko geopolitik, gangguan pasokan energi, hingga volatilitas finansial sebagai tantangan serius bagi sistem internasional. Ia juga menekankan transformasi besar akibat kecerdasan buatan yang memperdalam kerentanan global. “Seperti yang telah lama kami sampaikan, tantangan-tantangan ini memperlihatkan kelemahan sistem internasional dan mekanisme tata kelola global saat ini, sekaligus mendesaknya kebutuhan reformasi,” ujarnya, dilansir Anadolu, Sabtu (16/5/2026).
Mengulang pesannya pada Sidang Umum PBB 2014, Erdogan kembali menekankan “dunia lebih besar dari lima,” merujuk pada dominasi lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Ia menilai krisis Gaza memperlihatkan ketimpangan sistem internasional.
Türkiye, kata Erdogan, berkomitmen mendorong diplomasi perdamaian, mediasi, dan dialog berbasis kepercayaan. Ia menekankan pentingnya kerja sama bilateral, regional, dan global, khususnya melalui Organisasi Negara-Negara Turkik.
Dalam konteks hubungan bilateral, Erdogan mengingatkan Türkiye menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Kazakhstan pada 1991. Kini, perdagangan kedua negara mendekati 10 miliar dolar AS, dengan target 15 miliar dolar AS. Investasi Türkiye di Kazakhstan hampir mencapai 6 miliar dolar AS, sementara kontraktor Türkiye telah menyelesaikan 550 proyek senilai lebih dari 30 miliar dolar AS.
Erdogan juga menyoroti kerja sama di bidang pendidikan, olahraga, dan budaya, serta mengundang masyarakat Kazakhstan ke Ankara yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Pariwisata Dunia Turkik 2026. Ia menutup dengan pesan moral dari ajaran Khoja Ahmad Yasawi: “Jika mereka yang berkekurangan tetap lapar sementara mereka yang berkecukupan tidak menitikkan air mata, maka dunia akan runtuh.”