JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan tengah melakukan persiapan intensif untuk kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran paling cepat minggu depan.
Presiden AS, Donald Trump disebut sedang menimbang opsi militer setelah negosiasi perdamaian terhenti.
Menurut The New York Times yang dilansir Sabtu (16/5/2026), para pembantu Trump telah menyusun rencana aksi jika presiden memutuskan untuk melanjutkan operasi. Pentagon menyiapkan skenario lanjutan dari Operasi Epic Fury, yang sempat dihentikan ketika Trump mengumumkan gencatan senjata bulan lalu. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan ada rencana untuk meningkatkan pengerahan pasukan, termasuk lebih dari 50.000 personel di Timur Tengah.
Trump sendiri menegaskan sikap kerasnya. “Mereka akan membuat kesepakatan atau mereka akan dihancurkan,” katanya sebelum berangkat ke China. Ia juga menolak tawaran perdamaian terbaru dari Iran.
Opsi serangan yang ditinjau mencakup pemboman agresif terhadap target militer dan infrastruktur Iran, serta operasi pasukan khusus untuk mencari material nuklir di situs bawah tanah Isfahan. Namun, pejabat militer mengakui risiko besar korban jiwa jika operasi tersebut dijalankan.
Iran merespons dengan peringatan keras. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menulis, “Angkatan bersenjata kita siap memberikan respons yang setimpal terhadap setiap agresi; strategi dan keputusan yang keliru akan selalu berujung pada hasil yang keliru.”
Sejak gencatan senjata 7 April, AS disebut menggunakan jeda untuk mempersenjatai kembali kapal perang dan pesawat tempur. Jenderal Dan Caine menegaskan, “Tidak ada pihak lawan yang boleh salah mengartikan sikap menahan diri kita saat ini sebagai kurangnya tekad.”
Situasi ini menandakan ketegangan kembali meningkat, dengan kedua pihak bersiap menghadapi kemungkinan pecahnya konflik besar di kawasan Teluk.