JAKARTA – Presiden Türkiye, Recep Tayyip Erdogan menegaskan komitmen negaranya untuk terus membela hak-hak rakyat Palestina di setiap forum internasional, termasuk G20 yang tahun ini untuk pertama kalinya digelar di Afrika.
Dalam konferensi pers usai KTT G20 di Johannesburg, Erdogan menekankan pentingnya solidaritas negara-negara Global South—termasuk Indonesia—dalam mendorong penyelesaian adil atas krisis kemanusiaan di Gaza. Ia menyebut Turkiye telah mengirim lebih dari 103.000 ton bantuan, seraya menekankan bahwa sikap tegas terhadap isu Palestina merupakan “tanggung jawab moral bersama” negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Dilansir dari Anadolu, Senin (24/11/2025), Erdogan menegaskan perdamaian berkelanjutan di Timur Tengah tidak akan terwujud tanpa berdirinya negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Pesan itu sejalan dengan posisi Indonesia yang konsisten mendukung solusi dua negara serta menolak tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional.
G20 di Afrika dan peran negara berkembang
Erdogan menyambut penyelenggaraan G20 pertama di Afrika sebagai momentum penting memperkuat suara negara-negara berkembang. Ia mengapresiasi partisipasi aktif Indonesia dalam mendorong agenda inklusivitas ekonomi, keberlanjutan, dan kerja sama Selatan–Selatan.
Presiden Turkiye juga menegaskan komitmen negaranya untuk berperan dalam isu global seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan teknologi hijau—agenda yang juga menjadi prioritas Indonesia di G20. Ia memuji langkah Afrika Selatan menggugat Israel di Mahkamah Internasional terkait dugaan genosida di Gaza, menyebutnya sebagai bukti keberanian Global South memperjuangkan keadilan.
Pertemuan bilateral dan diplomasi
Selama KTT, Erdogan mengadakan sejumlah pertemuan dengan pemimpin negara G20 dan organisasi internasional. Ia juga berpartisipasi dalam forum MIKTA—kemitraan antara Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia—yang tahun ini menandai 12 tahun berdiri.
Dalam forum tersebut, para pemimpin membahas pentingnya multilateralitas dan koordinasi kebijakan menghadapi ketidakpastian global. Erdogan mengungkapkan rencana pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah sebelumnya bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Ankara. Turkiye, katanya, terus mendorong jalur diplomasi, termasuk kemungkinan mengaktifkan kembali koridor gandum di Laut Hitam.