LONDON, UK – Legenda sepak bola Manchester United, Eric Cantona, menggegerkan dunia olahraga dengan pernyataan kontroversialnya yang mendesak FIFA dan UEFA untuk melarang Israel berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola internasional.
Pernyataan ini disampaikan Cantona saat menghadiri konser amal bertajuk Together for Palestine di OVO Arena, Wembley, pada Kamis (18/9/2025).
Acara tersebut turut dihadiri oleh musisi ternama seperti Damon Albarn, Bastille, Pink Pantheress, serta aktor Benedict Cumberbatch, yang bersama-sama menggalang dukungan untuk isu kemanusiaan di Gaza.
Cantona, yang dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu politik, membandingkan situasi Israel dengan sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia pasca-invasi ke Ukraina pada 2022.
“Empat hari setelah Rusia menginvasi Ukraina, FIFA dan UEFA langsung menjatuhkan larangan. Sekarang sudah 716 hari sejak Amnesty International menyebut genosida terjadi di Gaza. Namun Israel masih tetap boleh bermain,” tegas Cantona, menyoroti ketidakkonsistenan dalam penegakan aturan oleh badan sepak bola dunia.
Perbandingan dengan Sanksi Rusia
Pada Februari 2022, FIFA dan UEFA dengan cepat mengeluarkan Rusia dari semua kompetisi internasional, termasuk Kualifikasi Piala Dunia 2026, setelah invasi ke Ukraina. Sanksi ini mencegah klub dan tim nasional Rusia tampil di turnamen resmi.
Cantona menilai, situasi di Gaza, yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 65 ribu jiwa per Desember 2023, seharusnya mendapatkan perhatian serupa dari otoritas sepak bola.
Namun, Presiden UEFA Aleksander Ceferin menolak usulan serupa untuk Israel. Dalam pernyataannya, Ceferin berargumen bahwa olahraga tidak seharusnya menjadi alat untuk menghukum atlet atas kebijakan pemerintah.
Sikap ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola dan aktivis, dengan banyak pihak menilai perlunya standar yang konsisten dalam menangani isu politik dalam olahraga.
Reaksi dan Konteks Acara
KonserTogether for Palestine menjadi panggung bagi Cantona untuk menyuarakan keprihatinannya terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Acara ini tidak hanya menarik perhatian karena kehadiran tokoh-tokoh terkenal, tetapi juga karena pesan kuat yang disampaikan untuk mendesak tindakan nyata dari komunitas internasional.
Cantona, yang memiliki sejarah panjang sebagai figur yang tidak takut mengkritik ketidakadilan, kembali menunjukkan pengaruhnya di luar lapangan hijau.
Pernyataan Cantona ini memicu diskusi luas di media sosial, dengan tagar Cantona dan #Palestine trending di platform X. Sebagian penggemar sepak bola mendukung seruannya, menyebutnya sebagai langkah berani untuk menyoroti isu kemanusiaan, sementara yang lain mempertanyakan apakah olahraga harus terlibat dalam konflik politik.
Desakan Cantona menambah tekanan pada FIFA dan UEFA untuk mengevaluasi kebijakan mereka terkait partisipasi negara dalam kompetisi internasional.
Meski demikian, belum ada tanggapan resmi dari kedua organisasi tersebut hingga berita ini ditulis. Dengan pengaruh besar yang dimiliki Cantona di dunia sepak bola, seruannya kemungkinan akan terus memicu diskusi global tentang peran olahraga dalam isu geopolitik.
Sementara itu, dunia sepak bola menantikan apakah pernyataan ini akan mendorong tindakan konkret dari badan pengatur atau justru memicu kontroversi lebih lanjut.