Gelombang dingin Arktik ekstrem menyapu Eropa sepanjang sepekan terakhir, memicu suhu beku ekstrem dan hujan salju masif di sebagian besar benua. Di Lapland, Finlandia, suhu tercatat merosot hingga -42,3 derajat Celsius, sementara data satelit Eropa menunjukkan 70–80 persen wilayah Eropa tertutup salju—cakupan terluas sejak 2010.
Fenomena cuaca ekstrem ini, yang oleh para ahli disebut sangat langka pada abad ke-21, mulai berdampak sejak awal Januari, khususnya di Eropa Utara dan Tengah. Pada Jumat, 9 Januari, serangkaian badai musim dingin menghantam Eropa Barat, termasuk Badai Goretti di Prancis dan Badai Elli di Jerman, dengan kecepatan angin melampaui 200 km/jam. Sementara itu, wilayah Eropa Timur diguyur hujan salju lebat akibat Siklon Ulli.
Korban Jiwa dan Gangguan Transportasi Meluas
Dampak cuaca ekstrem ini terus bertambah. Sedikitnya 13 orang tewas di berbagai negara Eropa akibat insiden terkait badai dan suhu ekstrem. Di Prancis saja, lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di jalanan yang tertutup es hitam. Korban jiwa lainnya tercatat di Turki, Bosnia, dan Jerman.
Kekacauan perjalanan meluas di berbagai negara. Ratusan penerbangan dibatalkan, termasuk lebih dari 700 penerbangan di Bandara Schiphol, Amsterdam, yang menyebabkan lebih dari 1.000 penumpang terdampar semalam. Di Jerman, Badai Elli memaksa penghentian seluruh layanan kereta jarak jauh di wilayah utara Hannover.
Rekor Suhu Dingin dan Status Siaga di Italia
Suhu ekstrem juga tercatat di sejumlah wilayah Eropa lainnya. Di Lapland bagian timur, suhu mencapai -39,9°C pada awal pekan. Italia tak luput dari dampak, dengan suhu di Dataran Tinggi Asiago turun hingga -23,1°C, sekitar 15 derajat di bawah rata-rata musiman.
Badan Perlindungan Sipil Italia menetapkan peringatan kuning di lima wilayah—Umbria, Abruzzo, Lazio, Calabria, serta pesisir Campania—seiring puncak gelombang dingin yang terjadi antara Minggu malam hingga Senin.
Pertemuan Sistem Cuaca Ekstrem
Badai Goretti tercatat membawa hembusan angin sangat destruktif di sepanjang pesisir Selat Inggris, dengan kecepatan maksimum 213 km/jam di Barfleur, Normandia, dan 198 km/jam di Padstow, Cornwall. Dampaknya, sekitar 380.000 rumah di Prancis kehilangan aliran listrik, sementara UK Met Office mengeluarkan peringatan merah langka untuk wilayah Cornwall dan Kepulauan Scilly.
Ahli meteorologi iLMeteo.it, Lorenzo Tedici, menyebut kejadian ini sebagai “peristiwa dingin yang sangat jarang terjadi di abad ke-21”, terlebih kontras dengan bulan Desember lalu yang justru menjadi salah satu yang terhangat di kota-kota seperti Milan.
Menurut para pakar, gelombang dingin ini dipicu oleh gangguan Polar Vortex serta sistem tekanan tinggi yang bertahan di atas Greenland, memaksa massa udara Arktik mengalir jauh ke selatan melintasi Eropa.
Meteorolog memperkirakan udara dingin ekstrem akan mulai melemah pada pertengahan pekan, seiring masuknya sistem cuaca Atlantik yang membawa hujan, salju, serta suhu yang sedikit lebih hangat ke berbagai wilayah.