JAKARTA – Partai puncak Liga Champions 2025-2026 yang mempertemukan Paris Saint-Germain dan Arsenal dipastikan menjadi salah satu final paling menarik musim ini dengan tensi tinggi dan kualitas permainan kelas elite.
Pertandingan PSG vs Arsenal dijadwalkan berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, pada Sabtu (30/5/2026) pukul 23.00 WIB dengan sorotan global yang tertuju pada duel dua filosofi sepak bola berbeda.
Pelatih PSG Luis Enrique menegaskan bahwa tidak ada tim yang lebih diunggulkan dalam laga final tersebut meskipun kedua tim memiliki performa impresif sepanjang musim.
“Ini final dan tidak ada favorit di final,” tegas pelatih kelahiran Gijon pada 8 Mei 1970 itu.
Catatan pertemuan kedua tim menunjukkan keseimbangan kekuatan dengan masing-masing mengoleksi dua kemenangan dan satu hasil imbang yang memperkuat prediksi laga berjalan ketat.
Luis Enrique menyoroti kontras pendekatan antara PSG yang mengandalkan permainan atraktif dengan Arsenal yang tampil efektif melalui kekuatan fisik, distribusi bola langsung, serta ancaman bola mati.
Menariknya, meski Arsenal dikenal sebagai salah satu tim paling produktif dari skema bola mati musim ini, PSG tidak menggunakan pelatih khusus untuk situasi tersebut.
“Kami sangat mengenal lawan. Kami bermain melawan mereka tahun lalu dan sebelumnya selalu ada hal-hal yang bisa kami perbaiki, baik di lini belakang maupun di lini depan,” ujar Enrique dikutip dari ESPN.
Ia juga menegaskan identitas permainan timnya yang tetap konsisten mengedepankan gaya bermain menyerang dan penuh ekspresi dalam beberapa musim terakhir.
“Namun, selama tiga musim terakhir kami telah menunjukkan bahwa kami adalah tim yang bermain dan mendapatkan kesenangan serta kenikmatan yang besar dari hal itu. Kami ingin konsisten dengan hal tersebut.”
Di sisi lain, Enrique memberikan apresiasi terhadap Mikel Arteta yang dinilai memiliki pemahaman mendalam terhadap Arsenal setelah bertahun-tahun membangun tim.
“Arteta mungkin sudah berada di Arsenal selama enam setengah tahun, jadi dia mengenal tim ini luar dalam,” lanjutnya.
Ia juga mengakui keberhasilan Arsenal menjuarai Liga Inggris sebagai bukti konsistensi performa mereka sepanjang musim.
“Namun Arsenal benar-benar layak memenangkan Liga Premier. Mereka adalah tim terbaik, secara konsisten terbaik, bahkan ketika Man City mengejar mereka, jadi mereka pantas mendapatkan gelar tersebut.”
Perjalanan kedua tim menuju final menunjukkan dinamika berbeda dengan Arsenal relatif mulus menghadapi Bayer Leverkusen, Sporting CP, dan Atletico Madrid.
Sebaliknya, PSG harus melalui jalur berat dengan menyingkirkan Chelsea, Liverpool, Bayern Munich, serta menjalani laga play-off melawan Monaco.
Luis Enrique menilai perjalanan sulit tersebut justru membentuk karakter timnya menjadi lebih kuat dan siap menghadapi tekanan final.
“Saya menikmati semua pertandingan yang kami mainkan untuk mencapai final,” ungkap Luis Enrique.
“Ada tujuh atau delapan pertandingan yang menunjukkan dengan tepat siapa kami sebenarnya.”
Ia menekankan bahwa penderitaan dalam pertandingan besar menjadi bagian penting dalam membentuk mental juara timnya.
“Kami menderita dan kami perlu menderita, untuk menunjukkan tim seperti apa kami sebenarnya. Kami telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tim terbaik di dunia, tetapi kami ingin memenangkannya lagi.”
Meski sejumlah prediksi menempatkan PSG sebagai kandidat kuat juara, Enrique kembali menolak label favorit dan menyebut final selalu sulit diprediksi.
“Saya rasa pertandingan akan sangat ketat, tetapi kita harus menikmati 90 menitnya karena selalu ada banyak ketegangan.”
“Saya rasa tidak ada motivasi yang lebih baik daripada memenangkan Liga Champions. Kita akan lihat besok siapa yang terbaik dan siapa yang menang.”***