JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mempercepat pembangunan Flyover Latumenten di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Proyek strategis senilai Rp259 miliar itu ditargetkan rampung pada 15 Desember 2026 dan diproyeksikan mampu mengurangi kemacetan hingga 40 persen dengan menghilangkan hambatan di perlintasan sebidang kereta api.
Komitmen itu ditegaskan saat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth meninjau progres pembangunan Flyover Latumenten, Kamis (2/7/2026). Dalam peninjauan tersebut, Kenneth memastikan proyek berjalan sesuai jadwal dan optimistis rampung tepat waktu sehingga segera mengurai kemacetan kronis di koridor Latumenten-Grogol, Jakarta Barat.
“Flyover Latumenten ini progresnya masih on the track, mudah-mudahan bisa selesai Desember 2026 nanti,” katanya kepada wartawan
Kenneth menjelaskan, pembangunan flyover tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Proyek itu berawal dari aspirasi masyarakat yang disampaikan saat dirinya menggelar reses pada 2024. Saat itu, warga mengeluhkan kemacetan panjang yang setiap hari terjadi akibat aktivitas di perlintasan kereta api sebidang.
“Pada 2024 lalu saya ada kunjungan kerja ke daerah sini saat reses. Warga lalu meminta dibangunkan flyover untuk mengurai kemacetan imbas perlintasan kereta yang padat,” ungkapnya.
Saat aspirasi itu disampaikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum mengalokasikan anggaran pembangunan. Karena itu, Kenneth mendorong agar dilakukan kajian teknis secara menyeluruh sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Hasil kajian tersebut kemudian menjadi pijakan pemerintah untuk memasukkan proyek ke dalam proses lelang. Setelah seluruh tahapan administrasi selesai, pembangunan Flyover Latumenten akhirnya dimulai pada penghujung 2025.
“Akhirnya saya minta dibuatkan kajian terkait permasalahan ini. Setelah itu masuk ke dalam proses lelang dan sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Mudah-mudahan bisa selesai on time seperti yang diharapkan Pak Gubernur,” terangnya.
Selain menjadi solusi kemacetan, Flyover Latumenten juga dirancang sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi publik yang terintegrasi di Jakarta Barat.
Pemerintah akan membangun skywalk yang menghubungkan flyover dengan Stasiun KRL dan halte Transjakarta. Fasilitas tersebut dilengkapi lift, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ramah bagi penyandang disabilitas, serta akses menuju layanan JakLingko sehingga perpindahan antarmoda dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Menurut Kenneth, konsep tersebut dirancang agar seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses transportasi yang aman, nyaman, dan inklusif.
“Jadi konsep tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan bagi seluruh pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang membawa barang atau kereta bayi. Kehadiran lift pada JPO akan mempermudah akses menuju halte Transjakarta tanpa harus menggunakan tangga,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan skywalk akan menghilangkan kebutuhan masyarakat untuk menyeberang di tengah padatnya arus kendaraan saat berpindah moda transportasi.
“Kehadiran fasilitas integrasi tersebut diharapkan tidak hanya memperlancar arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan pejalan kaki yang berpindah moda transportasi. Dengan adanya skywalk yang terkoneksi langsung dengan halte Transjakarta dan Stasiun KRL, masyarakat tidak perlu lagi menyeberang di tengah padatnya arus lalu lintas,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa progres pembangunan Flyover Latumenten kini telah mencapai 55,2 persen. Ia memastikan seluruh pekerjaan masih sesuai target sehingga proyek ditargetkan selesai pada 15 Desember 2026.
Pramono mengatakan, pembangunan flyover ini menjadi salah satu proyek infrastruktur yang paling dinantikan warga karena kawasan Latumenten selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu titik kemacetan paling parah di ibu kota.
“Flyover Latumenten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena apa? Di sini kalau dilihat pagi, sore, siang kemacetannya sangat tinggi sekali,” kata Pramono.
Setelah flyover mulai beroperasi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menutup perlintasan sebidang kereta api yang selama ini menjadi sumber kemacetan sekaligus titik rawan kecelakaan. Dengan demikian, seluruh kendaraan akan diarahkan melintasi jalur layang sehingga tidak lagi bersinggungan langsung dengan lintasan kereta.
Menurut Pramono, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan memperlancar arus lalu lintas, tetapi juga meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan menghilangkan potensi kecelakaan di perlintasan sebidang.
“Sehingga dengan demikian siapa pun harus naik ke atas supaya perlintasan yang sebidang kereta api ini tidak lagi terganggu dan juga menimbulkan kecelakaan seperti yang pernah terjadi di Bekasi pada waktu itu,” tuturnya.
Dengan beroperasinya flyover, pemerintah berharap waktu tempuh kendaraan di koridor Latumenten-Grogol dapat berkurang secara signifikan. Selain mengurai antrean kendaraan, proyek ini juga akan memperkuat konektivitas transportasi publik melalui integrasi langsung dengan KRL Commuter Line, Transjakarta, dan JakLingko.
Dukungan terhadap proyek tersebut juga datang dari pemerintah wilayah setempat. Wakil Camat Grogol Petamburan Pradana Putra menyebut pembangunan Flyover Latumenten merupakan impian masyarakat yang akhirnya terwujud setelah diperjuangkan selama puluhan tahun.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta yang telah merealisasikan aspirasi warga.
“Ini penantian warga puluhan tahun. Alhamdulillah terealisasikan. Terima kasih Pak Dewan dan Pak Gubernur. Semoga flyover ini bisa menjadi jawaban atas permasalahan kemacetan,” pungkas Pradana Putra.