Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat dalam operasi militer berskala besar pada Sabtu dini hari (3/1/2026) memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Investor menyoroti potensi gangguan stabilitas pasokan energi dunia serta dampaknya terhadap ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Operasi yang dinamai Operation Absolute Resolve tersebut melibatkan lebih dari 150 pesawat militer yang lepas landas dari sekitar 20 pangkalan di Belahan Bumi Barat. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali sementara Venezuela hingga tercapai transisi kekuasaan yang aman, sembari membuka pintu bagi perusahaan minyak AS untuk terlibat dalam pemulihan sektor energi negara tersebut.
Tekanan ke Rupiah dan Yield SBN
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menilai peristiwa ini berpotensi memicu sentimen negatif global, terutama melalui kenaikan harga minyak mentah.
“Yang paling dikhawatirkan adalah dampaknya ke harga minyak. Jika terjadi lonjakan harga, ekspektasi inflasi ke depan akan meningkat,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Menurut David, peningkatan ekspektasi inflasi global dapat mendorong imbal hasil US Treasury naik, yang kemudian merambat ke pasar negara berkembang. “Kalau yield obligasi AS meningkat, efeknya bisa terasa hingga ke yield Surat Berharga Negara (SBN) kita,” jelasnya.
Dari sisi nilai tukar, rupiah juga dinilai rentan karena Indonesia masih berstatus net importir minyak. “Jika harga minyak naik, tekanan ke kurs dan inflasi domestik akan terasa,” kata David. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026), rupiah melemah 0,27% ke level Rp16.715 per dolar AS.
Dolar Menguat, Rupiah Tertekan
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi memperingatkan bahwa jika ketegangan geopolitik berlanjut, indeks dolar AS (DXY) berpeluang menguat ke kisaran 105–107 dalam jangka pendek.
Sejalan dengan itu, pengamat komoditas Wahyu Tribowo Laksono menilai penguatan dolar berpotensi menyeret rupiah ke area di atas Rp16.800 per dolar AS, terutama jika sentimen risk-off kembali mendominasi pasar global.
Dampak Harga Minyak Dinilai Terbatas
Meski Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, para analis memperkirakan dampaknya terhadap harga minyak global masih relatif terbatas.
Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut ketegangan geopolitik di kawasan Karibia tidak akan langsung mengerek harga minyak mentah WTI secara signifikan dalam jangka pendek.
“Permintaan global saat ini memang sedang melambat. Dengan produksi minyak dunia sekitar 130 juta barel per hari, kenaikan harga cenderung bersifat sementara,” ujar David Sumual. Pada Minggu (4/1/2026), harga minyak mentah WTI tercatat di level US$57,32 per barel.
IHSG Diprediksi Melemah Terbatas
Dari pasar saham, analis pasar modal Hendra Wardana memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642–8.672 pada perdagangan Senin (5/1/2026).
Namun, kondisi ini dinilai bisa menjadi sentimen positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas. Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 1,17% ke level 8.748 pada Jumat (2/1/2026), dengan nilai transaksi mencapai Rp22,26 triliun.