LIMA , PERU – Demonstrasi menentang kebijakan pemerintah Peru terus bergulir dengan intensitas tinggi di ibu kota Lima. Pada Minggu (21/9/2025), ratusan pemuda dari Generasi Z (Gen Z) turun ke jalan, melanjutkan aksi pasca-bentrokan sengit yang melukai puluhan orang sehari sebelumnya.
Protes ini dipicu oleh keputusan kontroversial Kongres yang mengizinkan penarikan dana pensiun swasta, berpotensi merugikan jutaan pekerja di tengah maraknya kejahatan terorganisir dan pemerasan.
Menurut laporan dari otoritas setempok, bentrokan pada Sabtu (20/9/2025) melibatkan sekitar 450 demonstran di sekitar kantor presiden dan parlemen. Sebanyak 12 polisi dan 6 jurnalis terluka akibat lemparan batu dan kerusakan infrastruktur jalan raya.
Situasi sempat mereda, namun malam harinya kembali memanas ketika peserta aksi melemparkan batu dan bom molotov ke arah aparat. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Aksi Gen Z ini menjadi sorotan utama, di mana para pemuda usia 18-28 tahun memimpin pawai panjang menuju pusat pemerintahan. Mereka menyoroti ketidakadilan sistem pensiun yang baru saja disahkan Kongres minggu lalu, yang mewajibkan generasi muda bergabung ke dana pensiun swasta meski kondisi kerja sering kali tidak aman dan tidak stabil.
Demonstrasi ini bukan yang pertama; gelombang protes antipemerintah di Peru telah berlangsung berbulan-bulan, didorong oleh rasa frustrasi publik terhadap Kongres yang didominasi kelompok konservatif dan dianggap korup.
Xiomi Aguiler, seorang demonstran berusia 28 tahun, menyuarakan kemarahannya di tengah kerumunan. “Saya sangat marah, saya merasa benar-benar disesatkan oleh pemerintahan ini… dan Kongres yang melayani partai-partai politik,” katanya dengan nada getir. Ia bahkan menyebut partai-partai politik sebagai “mafia yang mengakar di negara ini,” menekankan akar masalah korupsi yang mendalam.
Sementara itu, Jonatan Esquen, mahasiswa berusia 18 tahun, melihat aksi ini sebagai titik balik. “Awal dari kebangkitan, karena orang-orang akhirnya menyadari bahwa anak muda lebih aktif di media sosial dan di arena politik,” ujarnya, menyoroti peran platform digital dalam memobilisasi massa muda.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Peru terkait tuntutan demonstran, termasuk potensi revisi undang-undang pensiun. Otoritas belum merilis data jumlah penangkapan pasca-bentrokan, meski pengamanan di Lima ditingkatkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Para analis memperingatkan bahwa protes berkepanjangan bisa memicu instabilitas ekonomi di negara Amerika Selatan ini, yang sudah terganggu oleh isu keamanan dan korupsi.
Perkembangan situasi di Peru ini menambah daftar panjang demonstrasi global tahun 2025, di mana generasi muda semakin vokal menuntut reformasi.
Masyarakat internasional, termasuk LSM hak asasi manusia, mendesak dialog damai untuk menghindari korban jiwa lebih banyak. Pantauan detikcom akan terus mengikuti update terbaru mengenai demo antipemerintah Peru dan implikasinya bagi stabilitas regional.