JAKARTA – Iran kembali menegaskan bahwa isu uranium diperkaya tidak akan dibahas dalam meja perundingan dengan Amerika Serikat di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri, yang menegaskan posisi tegas Teheran dalam menentukan batasan negosiasi.
“Masalah ini tidak masuk dalam agenda perundingan,” kata Ali Bagheri dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Fars, dikutip dari Anadolu, Kamis, 28 Mei 2026.
Langkah ini memperjelas sikap Iran yang tidak ingin membuka ruang kompromi terkait program nuklirnya, meski tekanan internasional terus meningkat.
Di sisi lain, Amerika Serikat sebelumnya melalui Presiden Donald Trump mendorong agar stok uranium yang telah diperkaya dipindahkan dan dimusnahkan demi mencegah potensi pengembangan senjata nuklir.
Usulan tersebut bahkan mencakup kemungkinan pemindahan uranium ke lokasi lain yang dianggap aman untuk proses penghancuran.
Washington secara konsisten menyuarakan kekhawatiran bahwa aktivitas nuklir Iran berisiko mengarah pada pengembangan senjata, sebuah tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Teheran.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk energi dan riset, serta bukan untuk tujuan militer.
Sementara itu, hubungan kedua negara masih berada dalam fase sensitif setelah konflik terbuka pecah pada 28 Februari 2026 akibat serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, yang kemudian dibalas oleh Iran.
Meski situasi belum sepenuhnya stabil, jalur diplomasi tetap berjalan dengan Pakistan mengambil peran sebagai mediator utama dalam proses negosiasi.
Peran Islamabad dinilai strategis dalam menjembatani kepentingan kedua pihak yang masih bersitegang, terutama dalam meredakan ketegangan kawasan.
Negosiasi yang berlangsung saat ini lebih difokuskan pada upaya penghentian konflik dan pembentukan kesepakatan damai jangka panjang dibandingkan membahas isu sensitif seperti uranium.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kedua negara masih membuka ruang dialog, meskipun perbedaan mendasar terkait isu nuklir belum menemukan titik temu.
Situasi geopolitik di kawasan pun diperkirakan tetap dinamis, seiring tarik-ulur kepentingan keamanan, energi, dan stabilitas global yang melibatkan lebih banyak aktor internasional.***