SULTENG– Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,4 yang mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada Minggu (13/7) malam menimbulkan dampak serius. Selain menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas publik dan rumah warga, bencana tersebut juga mengakibatkan satu orang meninggal dunia.
Korban meninggal diketahui merupakan seorang pasien yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buol saat gempa terjadi. Hingga kini, pemerintah daerah masih melakukan pendataan menyeluruh terhadap dampak kerusakan dan kebutuhan warga terdampak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Moh Kachfi Mardjuni, membenarkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Iya, data sementara yang kita terima saat ini, terdapat satu korban meninggal dunia yang merupakan pasien di RSUD Buol akibat terdampak gempa,” ujar Kachfi dalam keterangannya.
Gempa terjadi pada pukul 20.46 WITA. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada sekitar 37 kilometer di timur laut Kabupaten Buol dengan kedalaman 10 kilometer.
Guncangan yang relatif dangkal membuat getaran terasa cukup kuat di sejumlah wilayah. Selain Kabupaten Buol, gempa juga dirasakan hingga Kabupaten Tolitoli, Parigi Moutong, serta menjalar ke wilayah Marisa dan Tilamuta di Provinsi Gorontalo.
Menurut Kachfi, intensitas getaran menyebabkan kepanikan warga. Banyak masyarakat berhamburan keluar rumah sesaat setelah gempa mengguncang karena khawatir bangunan runtuh maupun terjadi gempa susulan.
“Warga sempat berhamburan keluar rumah dan ada yang sebagian mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman, karena khawatir akan terjadinya gempa susulan,” katanya.
Sebagian warga memilih mengungsi sementara ke kawasan Gunung Kali dan beberapa kecamatan lain yang dinilai lebih aman. Meski kondisi berangsur normal beberapa jam setelah kejadian, masyarakat masih diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Selain menelan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan di sejumlah bangunan penting. Data sementara BPBD mencatat kerusakan terjadi pada Kantor Mal Pelayanan Publik, Kantor Inspektorat Kabupaten Buol, sebagian ruang perawatan RSUD Buol, sebuah rumah makan, beberapa rumah warga di Kelurahan Kali, serta satu unit rumah di Desa Leok II.
Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Buol, Pemerintah Kabupaten Buol, dan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan asesmen cepat terhadap dampak bencana.
Pendataan difokuskan pada kondisi bangunan, jumlah warga terdampak, serta kebutuhan mendesak yang diperlukan masyarakat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Untuk malam ini situasi dilaporkan sudah kondusif dan sebagian besar warga telah kembali ke rumahnya masing-masing, namun kita tetap imbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan,” ujar Kachfi.
Sementara itu, BMKG memastikan gempa yang terjadi tidak berpotensi memicu tsunami. Meski demikian, masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah guna menghindari penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis parameter gempa, sumber guncangan berasal dari aktivitas tektonik di zona subduksi.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik geser (oblique-thrust),” jelas Wijayanto.
BMKG mencatat intensitas guncangan mencapai skala IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah Karamat, Biau, Lakea, Kota Tolitoli, dan Kota Buol. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, sebagian orang di luar bangunan, serta dapat menyebabkan benda-benda mudah pecah, pintu dan jendela berderit, hingga dinding berbunyi.
Sementara itu, wilayah Kota Parigi, Marisa, dan Tilamuta mengalami guncangan skala III MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dirasakan jelas di dalam rumah dan memberikan sensasi seperti sebuah truk besar melintas di sekitar bangunan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai peningkatan jumlah korban maupun kerusakan yang lebih luas. Pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait masih terus melakukan pemantauan di lapangan sekaligus memastikan proses penanganan terhadap warga terdampak berjalan optimal. Warga juga diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan resmi dari otoritas kebencanaan.