JAKARTA – Bek timnas Prancis, Ibrahima Konaté, mengaku masih sulit mempercayai dirinya kini menjadi bagian dari Real Madrid.
Pemain berusia 26 tahun itu berbicara kepada media menjelang duel semifinal Piala Dunia 2026 melawan Spanyol.
Selain membahas kepindahannya ke Santiago Bernabéu, Konaté mengulas performa Prancis sepanjang turnamen.
Ia juga menyinggung komentar bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, serta kesiapan Les Bleus menghadapi laga krusial.
Menurut Konaté, bergabung dengan Real Madrid merupakan pencapaian terbesar dalam perjalanan kariernya.
Ia menilai Los Blancos sebagai klub paling bersejarah di dunia sepak bola.
“Real Madrid adalah klub terbesar dalam sejarah sepak bola. Klub ini luar biasa. Bagi saya, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.”
“Namun, pada saat yang sama rasanya masih aneh, karena sampai benar-benar mengenakan seragam itu, saya rasa seseorang tidak akan sepenuhnya memahami artinya,” ungkap Konate seperti dilansir SB Nation, Senin (13/7/2026).
Konaté mengatakan atmosfer di Real Madrid baru benar-benar terasa setelah seorang pemain mengenakan jersey klub tersebut.
Ia menyebut pengalaman itu sebagai sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
Di sisi lain, Prancis tampil sebagai salah satu tim paling produktif sepanjang Piala Dunia.
Meski demikian, Konaté menilai ketajaman lini depan lahir dari kerja sama seluruh pemain.
Ia menegaskan keberhasilan tim bukan hanya milik para penyerang.
Gelandang, bek hingga penjaga gawang Mike Maignan disebut memiliki kontribusi yang sama pentingnya.
“Wajar jika banyak orang membicarakan permainan kami sejak awal turnamen karena performa menyerang kami sangat luar biasa.”
“Namun, semuanya berawal dari kerja kolektif. Saya berbicara tentang para gelandang, bek, bahkan Mike Maignan.”
“Sejujurnya, apa yang dilakukan tim ini benar-benar luar biasa. Termasuk para pemain yang masuk dari bangku cadangan, semuanya tampil luar biasa,” ungkap Konate.
Menjelang menghadapi Spanyol, perhatian publik banyak tertuju kepada Lamine Yamal.
Namun Konaté menegaskan Prancis tidak hanya menyiapkan strategi untuk menghentikan satu pemain.
Ia menilai seluruh skuad Spanyol memiliki kualitas yang mampu membahayakan lawan.
“Sejujurnya, kami tidak hanya memikirkan bagaimana menghentikan Lamine Yamal. Spanyol adalah tim luar biasa dengan banyak pemain berkualitas.”
“Kami tidak boleh hanya fokus kepada satu pemain karena seluruh tim mereka bisa memberikan ancaman. Bukan hanya Lamine, tetapi seluruh tim Spanyol.”
Konaté juga menggambarkan suasana di ruang ganti Prancis menjelang pertandingan besar.
Menurutnya, para pemain tetap santai dan penuh canda saat latihan.
Namun suasana langsung berubah ketika hari pertandingan tiba.
Seluruh pemain disebut memiliki satu tujuan yang sama, yaitu meraih kemenangan.
“Buruk. (Tertawa). Saya mengatakan itu karena kami mampu berubah sepenuhnya.”
“Sehari sebelum pertandingan atau saat latihan kami banyak bercanda dan tertawa dengan suasana yang sangat menyenangkan, tetapi tetap serius.”
“Ketika hari pertandingan tiba, bahkan sejak berada di bus menuju stadion, semua pemain berubah total.”
“Kami hanya memiliki satu obsesi, yaitu menang. Kami memiliki tujuan yang sama.”
Konaté juga merespons pernyataan Lamine Yamal yang menyebut Prancis seharusnya merasa takut menghadapi Spanyol.
Bek Real Madrid itu memastikan timnya tidak terpengaruh perang urat saraf.
Ia menegaskan Les Bleus tetap mengutamakan kerendahan hati sepanjang turnamen.
“Tidak. Sejujurnya kami tidak memedulikan semua komentar yang muncul menjelang pertandingan.”
“Kami tidak boleh takut kepada siapa pun. Yang terpenting adalah menjaga kerendahan hati sejak awal turnamen dan tidak terjebak dalam hal-hal seperti itu.”
“Dia bebas mengatakan apa pun. Kami akan mempersiapkan pertandingan sebaik mungkin dan saya berharap hasil akhirnya berpihak kepada kami.”
Konaté turut mengulas kekalahan Prancis dari Spanyol pada pertemuan sebelumnya.
Ia menilai minimnya kekompakan lini belakang menjadi penyebab utama hasil tersebut.
Menurutnya, saat itu banyak pemain bertahan baru pertama kali bermain bersama.
Kondisi tersebut membuat koordinasi tim belum berjalan maksimal.
“Kami tidak akan berbohong, itu pertandingan yang sangat sulit. Namun jika jujur, terutama di lini belakang, banyak pemain yang saat itu belum memiliki chemistry karena baru pertama kali bermain bersama.”
“Situasi itu memang menyulitkan. Saya yakin jika kondisinya berbeda, jalannya pertandingan juga tidak akan sama.”
Di akhir wawancara, Konaté memberikan apresiasi kepada pelatih Didier Deschamps.
Ia menyebut Deschamps memiliki kemampuan manajemen yang sangat baik.
Kejujuran sang pelatih menjadi salah satu alasan skuad tetap solid meski persaingan sangat ketat.
Konaté mengakui setiap pemain tentu kecewa ketika tidak dimainkan.
Namun ia menegaskan seluruh anggota tim memahami besarnya arti tampil di Piala Dunia.
“Manajemen Deschamps sangat baik. Sejujurnya, dia pelatih yang luar biasa. Salah satu kualitas terbaiknya adalah kejujuran.”
“Tentu ada rasa kecewa ketika tidak bermain. Itu hal yang wajar. Namun yang paling penting adalah mengingat bahwa ini adalah Piala Dunia.”
“Kesempatan tampil di ajang ini hanya datang setiap empat tahun sekali,” pungkas Konate.
Duel panas semifinal Piala Dunia Prancis vs Spanyol berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Texas pada Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB.***