JAKARTA – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Laut Maluku pada Minggu (7/6/2026) pukul 01.56 WIB dan sempat dirasakan oleh masyarakat di sejumlah daerah di Sulawesi Utara.
Berdasarkan hasil pemutakhiran data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di koordinat 0,24 derajat Lintang Selatan dan 125,11 derajat Bujur Timur.
Lokasi episenter tercatat berada di wilayah laut sekitar 123 kilometer tenggara Kota Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.
Sementara itu, kedalaman gempa terukur berada pada 32 kilometer di bawah permukaan bumi sehingga dikategorikan sebagai gempa dangkal.
Dipicu Aktivitas Subduksi Lempeng Laut Maluku
Analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di zona subduksi Laut Maluku yang dikenal sebagai salah satu kawasan aktif kegempaan di Indonesia bagian timur.
Kajian mekanisme sumber mengindikasikan terjadinya pergerakan patahan dengan karakter geser naik atau oblique thrust yang memicu pelepasan energi di dasar laut.
Jenis pergerakan tersebut lazim ditemukan pada wilayah pertemuan lempeng yang mengalami tekanan kuat sehingga menghasilkan aktivitas seismik cukup signifikan.
Getaran Dirasakan di Sejumlah Wilayah Bolaang Mongondow
Berdasarkan pemetaan tingkat guncangan atau shakemap BMKG, gempa dirasakan dengan intensitas III hingga IV MMI di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.
Pada tingkat intensitas tersebut, getaran dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam bangunan.
Sementara itu, wilayah Pinolosian Timur di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan serta Kecamatan Motongkad di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur merasakan guncangan dengan intensitas III MMI.
Pada skala tersebut, getaran umumnya terasa jelas di dalam rumah dan sering kali diibaratkan seperti adanya kendaraan berat yang melintas.
Tidak Berpotensi Tsunami dan Belum Ada Kerusakan
Hasil pemodelan yang dilakukan BMKG memastikan bahwa gempa bumi yang terjadi di Laut Maluku tidak memiliki potensi menimbulkan tsunami.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut.
Pemantauan lanjutan yang dilakukan BMKG sampai pukul 02.15 WIB juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock.
Kondisi tersebut menjadi indikator awal bahwa energi utama gempa telah dilepaskan tanpa diikuti rangkaian aktivitas seismik lanjutan yang signifikan.
BMKG Minta Masyarakat Tetap Tenang
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengacu pada sumber resmi pemerintah.
Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan akibat getaran gempa hingga dipastikan aman untuk digunakan kembali.
Selain itu, masyarakat disarankan memeriksa kondisi rumah dan memastikan struktur bangunan masih stabil sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.
BMKG menegaskan bahwa informasi resmi mengenai gempa bumi dan tsunami hanya disampaikan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.***