JAKARTA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, memberikan dampak besar terhadap sektor pendidikan di Pulau Flores. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 1.378 sekolah tercatat mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Hingga Jumat, 21 Agustus 2026, proses pendataan terhadap sekolah terdampak telah mencapai 92 persen. BNPB masih melakukan asesmen di lapangan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi fasilitas pendidikan yang terdampak gempa.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kerusakan yang telah teridentifikasi mencakup 5.521 ruang kelas. Selain itu, terdapat 502 bangunan fasilitas sekolah yang masuk dalam kategori rusak berat.
Dampak gempa tidak hanya dirasakan dari sisi kerusakan bangunan. BNPB mencatat sebanyak 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan ikut terdampak akibat terganggunya aktivitas pendidikan di wilayah Flores. Pemerintah kini berupaya menyiapkan fasilitas sementara agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara bertahap.
923 Sekolah Masih Libur
Kondisi bangunan yang belum sepenuhnya dinyatakan aman membuat sebagian sekolah belum dapat kembali menjalankan kegiatan belajar seperti biasa. BNPB mencatat 923 sekolah masih memberlakukan penghentian kegiatan belajar sementara dengan mempertimbangkan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sekolah mulai menggunakan alternatif lain. Sebanyak 35 sekolah memanfaatkan ruang darurat untuk kegiatan belajar, sedangkan 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ. Sementara itu, 30 sekolah dilaporkan masih dapat menjalankan kegiatan belajar secara normal.
Pola pembelajaran tersebut diterapkan berdasarkan kondisi masing-masing sekolah dan hasil pemeriksaan di lapangan. Sekolah yang bangunannya belum aman harus menyesuaikan proses pembelajaran hingga fasilitas yang lebih layak tersedia.
Pemerintah Siapkan Fasilitas Darurat
Upaya pemulihan sektor pendidikan juga dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sebelumnya, kementerian tersebut mencatat sejumlah satuan pendidikan terdampak dan menyiapkan bantuan berupa tenda darurat untuk mendukung kegiatan belajar di wilayah yang fasilitas sekolahnya mengalami kerusakan.
Kemendikdasmen menargetkan pemasangan tenda darurat mulai 23 Agustus 2026. Bantuan tersebut akan diarahkan ke sejumlah wilayah di Flores, termasuk Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.
Sementara itu, aktivitas kegempaan di Flores juga masih berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 di antaranya memiliki magnitudo di atas 5,0.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah masih memprioritaskan keselamatan warga sekolah sembari melanjutkan pendataan kerusakan. Hasil asesmen selanjutnya akan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan perbaikan fasilitas pendidikan serta pemulihan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak. (ACH)





