WASHINGTON, AS – Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak dapat diartikan sebagai akhir dari konflik bersenjata. Menurutnya, penghentian sementara permusuhan ini hanyalah sebuah “jeda” di tengah ketegangan yang masih membara.
Dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian Pertahanan AS, Virginia, Rabu (8/4) pagi waktu setempat, Caine menyatakan bahwa militer AS akan tetap bersiaga penuh untuk melanjutkan pertempuran sewaktu-waktu. Ia juga mengklaim bahwa seluruh tujuan strategis Amerika Serikat di Iran telah tercapai.
Klaim tersebut disampaikan Caine mendampingi Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Keduanya memberikan keterangan pers usai Presiden Donald Trump membatalkan ancaman serangan besar-besaran ke Iran hanya dua jam sebelum tenggat waktu yang diberikan untuk membuka Selat Hormuz.
Hancurkan 13.000 Target, 90 Persen Armada Iran Dilumpuhkan
Jenderal Caine memaparkan sejumlah capaian operasional militer AS yang dinilainya spektakuler. Ia mengklaim bahwa lebih dari 13.000 target di Iran telah berhasil dihancurkan. Tak hanya itu, sebanyak 80 persen sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan telah luluh lantak.
Sementara itu, 90 persen armada laut dan 90 persen pabrik senjata Iran diklaim sudah tidak berfungsi.
“Butuh waktu bertahun-tahun bagi Iran untuk membangun kembali kapal perang mereka,” ujar Caine dalam pernyataan langsungnya.
Hegseth: Program Rudal Iran Hancur, AS Menangkan Perang
Sejalan dengan Caine, Menteri Pertahanan Pete Hegseth secara tegas mengklaim bahwa AS sudah memenangkan perang melawan Iran. Kemenangan ini, kata Hegseth, ditandai dengan hancurnya program rudal balistik Iran yang kini disebutnya tidak lagi berfungsi.
Meski demikian, Hegseth mengonfirmasi bahwa pasukan AS masih ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Tugas utama mereka saat ini adalah memastikan kepatuhan Iran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlangsung selama dua pekan, sekaligus memantau persediaan uranium yang diperkaya.
“Mengenai uranium, kami mengawasinya. Kami tahu apa yang mereka miliki, dan mereka akan menyerahkannya, dan kami akan mendapatkannya. Kami akan mengambilnya jika perlu,” tegas Hegseth.
Iran Berterima Kasih ke Pakistan
Di sisi lain, Pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan apresiasi kepada Pakistan. Atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Araghchi mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Munir atas upaya diplomatik yang dinilainya tanpa lelah dalam mengakhiri perang di kawasan.
Abbas juga menyampaikan kondisi kesepakatan timbal balik. Ia menegaskan bahwa jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan turut menghentikan operasi balasan.
Lebih lanjut, Araghchi membahas nasib Selat Hormuz—jalur perdagangan minyak global yang sempat ditutup Iran sebagai imbas dari serangan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyampaikan bahwa jalur tersebut akan kembali dibuka secara terbatas.
“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata Araghchi.