JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren positif seiring respons pasar terhadap gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran yang memicu optimisme global.
Penguatan IHSG menjadi sorotan utama pelaku pasar karena terjadi di tengah dinamika geopolitik yang sebelumnya menekan sentimen investor.
Pergerakan indeks acuan ini juga tidak lepas dari pengaruh kuat bursa global yang kompak menghijau setelah meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Pada perdagangan Rabu sebelumnya, IHSG mencatat lonjakan signifikan sebesar 4,42 persen hingga menutup sesi di level 7.279.
“IHSG berpotensi kembali melanjutkan penguatan,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa ruang gerak IHSG berada pada kisaran support 7.050-7.100 dan resistansi di level 7.300-7.400.
Namun pada perdagangan Kamis pagi pukul 10.00 WIB, IHSG sempat terkoreksi ke posisi 7.230,34 atau turun 0,67 persen setara 48,87 poin.
Koreksi tipis tersebut dinilai sebagai fase konsolidasi setelah reli tajam yang terjadi sehari sebelumnya.
Penguatan IHSG juga didukung aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp573 miliar.
Sejumlah saham unggulan yang menjadi incaran asing antara lain BBNI, AADI, BRMS, BBCA, dan ENRG.
Sentimen global menjadi faktor dominan yang mengangkat kinerja pasar saham domestik.
Bursa saham Amerika Serikat mencatat kenaikan tajam dengan indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,85 persen, S&P 500 menguat 2,51 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 2,80 persen.
Euforia tersebut turut menjalar ke kawasan Asia Pasifik yang mencatat penguatan serentak.
Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 5,4 persen, Hang Seng Hong Kong naik 3,1 persen, dan Taiex Taiwan menguat 4,6 persen.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 6,9 persen, diikuti ASX 200 Australia yang bertambah 2,6 persen.
Selain saham, komoditas energi juga mengalami perubahan signifikan pasca kesepakatan damai tersebut.
Harga minyak dunia terkoreksi tajam dengan West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 16 persen ke USD94,41 per barel.
Sedangkan minyak Brent mengalami penurunan sekitar 13 persen ke level USD94,75 per barel.
Penurunan harga minyak menjadi indikator meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga memperkirakan tren penguatan IHSG masih berlanjut.
“IHSG kemungkinan akan melanjutkan penguatan ke rentang 7.323-7.450,” ujarnya.
Meski demikian, dinamika geopolitik masih menyisakan ketidakpastian baru.
Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai.
Langkah tersebut berpotensi kembali memicu volatilitas di pasar global jika eskalasi konflik meningkat.***