LAMONGAN – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak para santri untuk menjadikan pendidikan sebagai bekal utama dalam meraih masa depan yang lebih baik. Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri Haflah Akhirussanah Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat Tahun 2026 di Lamongan, Jawa Timur, Minggu (31/5/2026).
Dalam acara yang dihadiri ribuan santri, wali santri, serta para pengasuh pondok pesantren itu, Sudaryono membagikan perjalanan hidupnya sebagai putra seorang petani dari Jawa Tengah yang berhasil menempuh pendidikan hingga ke Jepang dan kini dipercaya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia.
“Saya ini anak petani. Orang tua saya petani. Dulu saya rajin belajar karena tidak ingin menjadi petani seperti orang tua saya yang harus bekerja keras di sawah. Namun takdir Allah berkata lain. Hari ini saya justru dipercaya menjadi orang nomor dua di sektor pertanian Indonesia yang ikut menentukan kebijakan untuk jutaan petani di seluruh negeri,” ujar Wamentan Sudaryono.
Ia menuturkan bahwa perjalanan hidup setiap orang sering kali tidak dapat diprediksi. Karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu memanfaatkan berbagai peluang yang datang di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Mas Dar itu mengisahkan analogi tentang tiga pemuda yang menemukan berlian di dalam gua. Melalui kisah tersebut, ia menekankan pentingnya memanfaatkan setiap kesempatan yang ada agar tidak menyesal di kemudian hari.
“Kita tidak pernah tahu di ujung perjalanan hidup kita akan menjadi apa. Karena itu saya mengajak adik-adik semua untuk melakukan apa yang saya sebut sebagai gerakan menjemput takdir. Persiapkan diri sebaik mungkin, belajar sebaik mungkin, karena ketika kesempatan datang, kita sudah siap,” katanya.
Sudaryono menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu instrumen terpenting untuk meningkatkan kualitas hidup. Menurutnya, bagi anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana, pendidikan menjadi modal utama untuk membuka peluang yang lebih luas.
“Belajar yang rajin, bekerja keras, disiplin, memang tidak menjamin seseorang pasti berhasil. Tetapi semua itu memperbesar peluang untuk berhasil. Sudah belajar keras saja belum tentu berhasil, apalagi kalau tidak belajar,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Sudaryono juga membagikan pengalaman saat menempuh pendidikan di Jepang selama lima tahun. Ia menilai masa muda merupakan periode terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan memperluas wawasan di berbagai bidang.
“Di usia muda tidak ada yang tidak mungkin. Mau belajar bahasa asing, teknologi, ilmu agama, atau bidang lainnya, semuanya bisa dicapai selama ada kemauan dan kesungguhan,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga telah dikukuhkan menjadi bagian dari Keluarga Besar Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat itu.
Selain itu, ia memperkenalkan konsep yang disebutnya sebagai “The Power of Kepepet”, yakni dorongan untuk terus berkembang melalui tantangan dan target yang lebih tinggi.
“Pepetlah diri Anda untuk terus belajar dan berkembang. Jangan biarkan waktu habis untuk hal-hal yang tidak produktif. Ketika kita terus menantang diri sendiri, kemampuan kita akan tumbuh lebih cepat,” katanya.
Sudaryono juga membagikan prinsip hidup yang selama ini menjadi pedomannya, yakni melakukan aktivitas yang memberikan manfaat berupa tambahan ilmu, penghasilan, atau pahala.
“Kalau suatu kegiatan tidak menambah ilmu, tidak menambah penghasilan, dan tidak menambah pahala, maka sebaiknya ditinggalkan. Waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat,” ujar Wamentan Sudaryono.
Tak hanya memberikan motivasi kepada para santri, Wamentan juga mengingatkan para orang tua agar terus memberikan dukungan dan doa terbaik bagi anak-anak mereka. Menurutnya, banyak tokoh besar lahir dari lingkungan desa dan keluarga sederhana.
“Jangan pernah meremehkan anak Anda. Berikan semangat, berikan dukungan, dan berikan doa terbaik. Tidak ada yang tahu siapa yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa, menteri, profesor, ulama, atau tokoh besar lainnya. Bisa jadi mereka berasal dari lingkungan yang sederhana seperti kita semua,” katanya.
Menutup sambutannya, Sudaryono mengajak para santri untuk terus menjaga semangat belajar, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, serta berani memiliki cita-cita besar.
“Masa depan adalah misteri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tetapi satu hal yang pasti, siapa yang mempersiapkan diri dengan baik akan memiliki peluang yang lebih besar untuk meraih kesuksesan. Terus belajar, terus berusaha, dan jemput takdir terbaik kalian,” tutupnya dengan disambut tepuk tangan riuh dari ribuan santri.