JAKARTA – Pemerintah menegaskan harga BBM subsidi tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan hingga Hari Raya, sekalipun harga minyak mentah dunia terdorong naik akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kepastian harga BBM subsidi ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi global yang dipicu dinamika perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Jaminan tidak adanya kenaikan harga BBM subsidi tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan resminya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3), sekaligus meredam kekhawatiran publik menjelang momentum Lebaran.
“Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekali pun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3).
Pernyataan tersebut mempertegas komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi bersubsidi sebagai bantalan ekonomi masyarakat kecil di tengah tekanan eksternal.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka ruang penyesuaian untuk BBM non-subsidi yang mekanismenya mengikuti dinamika pasar internasional sebagaimana diatur dalam regulasi yang berlaku.
Penyesuaian harga BBM non-subsidi, menurut Bahlil, tetap merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 yang menjadi payung hukum dalam formulasi harga berbasis pasar.
Di sisi lain, aspek krusial lain yang menjadi perhatian adalah ketahanan pasokan energi nasional menjelang lonjakan konsumsi saat arus mudik dan libur Idul Fitri.
Pemerintah memastikan stok BBM dan LPG dalam kondisi aman dan terkendali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan hingga Lebaran.
“Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, Insyaallah semua aman, termasuk dengan LPG. Jadi enggak perlu ada keraguan sekali pun memang terjadi dinamika global di Iran dan Israel,” tegas Bahlil.
Ketersediaan energi yang terjaga dinilai krusial untuk memastikan distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa gangguan berarti.
Pemerintah juga mengintensifkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memonitor situasi global sekaligus menjaga stabilitas domestik hingga masa libur Lebaran berakhir.
Langkah antisipatif ini dilakukan agar fluktuasi geopolitik internasional tidak berdampak langsung pada kestabilan harga energi dalam negeri maupun kelancaran aktivitas nasional.
Dengan kepastian harga BBM subsidi tetap dan stok energi aman, pemerintah berharap masyarakat dapat menjalani Ramadan dan Idul Fitri dengan tenang tanpa dibayangi kekhawatiran kenaikan harga bahan bakar.***