Lonjakan harga emas global yang sempat membuat banyak orang kaya mendadak kini berbalik menjadi mimpi buruk bagi puluhan ribu investor ritel di China. Platform perdagangan emas online JWR, yang pernah menjadi primadona karena menawarkan leverage tinggi dan biaya masuk rendah, resmi kolaps akibat krisis likuiditas parah.
Estimasi investor yang dikumpulkan media domestik menyebut total dana yang belum bisa dicairkan mencapai lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar Rp 171 triliun.
Kronologi Singkat Runtuhnya JWR
Platform ini meledak popularitasnya sejak akhir 2025, ketika harga emas spot melonjak tajam akibat ketidakpastian geopolitik dan inflasi global. Banyak investor ritel China berbondong-bondong menempatkan dana di JWR karena janji return cepat melalui model pra-penetapan harga (pre-fixed price trading).
Model ini memungkinkan nasabah dan platform menyepakati harga emas/perak di masa depan secara privat, tanpa melalui bursa logam mulia resmi seperti Shanghai Gold Exchange.
Namun, ketika harga emas kembali naik sangat cepat di awal 2026, ribuan nasabah bergegas mencairkan keuntungan mereka. Lonjakan permintaan penarikan dana yang ekstrem membuat JWR kehabisan likuiditas.
Perusahaan akhirnya tidak mampu memproses withdrawal, dan ratusan investor mulai berkumpul di depan kantor JWR di distrik Luohu, Shenzhen, selama akhir pekan. Situasi memanas hingga polisi harus turun tangan menjaga ketertiban.
Respons Otoritas dan Investigasi
Media Yicai melaporkan bahwa pemerintah setempat telah membentuk gugus tugas khusus untuk menyelidiki dugaan operasi bisnis tidak normal di JWR. Fokus utama penyelidikan adalah:
- Praktik perdagangan pra-penetapan harga yang dianggap berisiko tinggi
- Kemungkinan adanya unsur penipuan atau penggelapan dana nasabah
- Transparansi aset dan cadangan likuiditas platform
Pengacara Deng Ping dari Guangzhou, yang menangani kasus serupa, menyatakan bahwa kasus runtuhnya platform investasi swasta seperti JWR semakin sering terjadi. “Dua tahun lalu kita melihat fenomena serupa di sektor teh dan kripto, sekarang giliran logam mulia,” katanya.
Risiko Tersembunyi di Balik Demam Emas Online
Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen telah memperingatkan sejak Oktober 2025 bahwa banyak platform online menjalankan “tarutan emas non-fisik” yang mirip perjudian ilegal.
Model bisnis ini menawarkan daya tarik leverage tinggi dan kemudahan akses, tapi sangat rentan terhadap pergerakan harga ekstrem dan kurangnya pengawasan regulasi.
Seorang investor di platform Xiaohongshu mengaku, “Banyak dari kami sudah melaporkan ke polisi di kota masing-masing dan ke Shenzhen. Risikonya sekarang sangat tinggi, dan masih banyak platform serupa di luar sana.”