BEIRUT, LEBANON – Kelangsungan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran terancam bubar total jika front Lebanon tidak dilibatkan dalam perjanjian tersebut. Ancaman ini disampaikan langsung oleh Hizbullah menyusul pernyataan militer Israel yang menegaskan pertempuran di Lebanon utara akan terus berlanjut.
Seorang anggota parlemen Hizbullah, Ibrahim Moussawi, dengan tegas menyatakan bahwa kesepakatan yang telah dinegosiasikan tersebut secara inheren mencakup front Hizbullah-Israel. Ia memperingatkan bahwa ketidakpatuhan Israel terhadap perjanjian itu akan memicu respons luas dari seluruh kawasan, termasuk Iran.
“Kesepakatan ini mencakup front Hizbullah-Israel, dan jika Israel tidak mematuhinya, maka kawasan tersebut, termasuk Iran, akan merespons,” ujar Moussawi dalam pernyataannya.
Peringatan ini muncul seketika setelah militer Israel merilis pernyataan resmi pada pagi hari ini. Dalam pernyataannya, militer Israel mengonfirmasi bahwa pertempuran dengan Hizbullah dan operasi invasi darat akan terus berlangsung. Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang ada tidak mencakup wilayah Lebanon.
Sejak pemberlakuan gencatan senjata, serangan Israel tercatat telah terjadi di sejumlah lokasi di Lebanon selatan. Iran, yang sejak awal konflik menyatakan solidaritas penuh dengan Lebanon, berulang kali menekankan bahwa mereka berada dalam satu front terintegrasi. Menurut Teheran, setiap bentuk kesepakatan damai harus secara otomatis mencakup front Lebanon.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian tinggi di Lebanon. Sementara itu, kekhawatiran akan potensi eskalasi juga merembet ke sektor maritim internasional. Asosiasi Pemilik Kapal Norwegia menyatakan bahwa gencatan senjata selama dua minggu yang disepakati AS dan Iran belum memberikan kejelasan yang cukup bagi kapal-kapal Norwegia untuk kembali melintasi Selat Hormuz. Kelompok industri yang mewakili 130 perusahaan dengan sekitar 1.500 kapal di seluruh dunia ini menilai situasi keamanan di Teluk masih sangat tidak menentu.
“Kami mencatat sinyal gencatan senjata, tetapi situasi di Selat Hormuz tetap belum terselesaikan dan tidak dapat diprediksi. Belum jelas dalam kondisi apa transit yang aman dapat dilakukan. Para pemilik kapal sedang menilai situasi dan tidak akan melanjutkan transit sampai ada keamanan nyata untuk pelayaran yang aman,” kata CEO kelompok tersebut, Knut Arild Hareide, dalam pernyataan.
Sebelumnya, perusahaan pelayaran raksasa asal Denmark, Maersk, juga menyuarakan kekhawatiran serupa dengan menyatakan bahwa pengumuman gencatan senjata belum memberikan kepastian yang cukup untuk melanjutkan operasi normal di wilayah tersebut.