JAKARTA – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance memperingatkan bahwa gencatan senjata dua pekan antara Washington dan Teheran masih “rapuh” setelah serangan baru melanda Kuwait dan Uni Emirat Arab, hanya beberapa jam usai kesepakatan diumumkan.
Serangan terjadi ketika dua kapal melintasi Selat Hormuz, jalur vital yang sementara dibuka kembali oleh Iran di bawah ancaman Donald Trump.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Rabu (8/4/2026), Iran menegaskan perang belum berakhir hingga syarat formal dinegosiasikan, dengan pembicaraan lanjutan dijadwalkan di Pakistan pada Jumat. Tuntutan Teheran terkait kendali atas Selat Hormuz, pengayaan uranium, dan sanksi ekonomi masih bertentangan dengan posisi Washington.
Berbicara di Budapest, Vance menyebut kesepakatan bisa bertahan jika Iran “bersedia dengan itikad baik untuk bekerja sama dengan kita.” Namun, ia menegaskan, “Presiden Amerika Serikat bukanlah orang yang suka main-main. Dia tidak sabar untuk mencapai kemajuan.”
Sementara itu, Paus Leo dan sejumlah pemimpin dunia menyerukan diakhirinya perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar energi global. Trump menyebut kesepakatan itu sebagai “kemenangan total dan lengkap” bagi AS, sementara Garda Revolusi Iran memperingatkan mereka “tidak percaya” pada janji Washington dan siap menembak kapan saja.
Trump juga mengatakan AS akan bekerja sama dengan Iran untuk memindahkan uranium yang diperkaya, menegaskan di media sosial bahwa “tidak akan ada pengayaan uranium” setelah serangan gabungan AS–Israel musim panas lalu.