Pasar saham Indonesia mengalami guncangan hebat hari ini, Rabu (28/1/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga minus 7,35% atau turun 659,67 poin, ditutup di level 8.320,56.
Penurunan ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah bursa domestik baru-baru ini, bahkan memicu aktivasi trading halt (penghentian sementara perdagangan) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 30 menit setelah indeks sempat menyentuh minus lebih dari 8% di sesi kedua.
Penyebab utama ambruknya IHSG adalah pengumuman mendadak dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada malam sebelumnya. MSCI memutuskan menerapkan perlakuan sementara (interim treatment) terhadap sekuritas Indonesia, membekukan sementara kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) dalam indeks globalnya.
Keputusan ini dipicu kekhawatiran investor global terhadap transparansi data free float (saham beredar bebas) dan struktur kepemilikan saham di Indonesia.
MSCI menilai data yang ada belum cukup rinci dan andal, termasuk risiko konsentrasi kepemilikan tinggi, sehingga memerlukan perbaikan signifikan hingga batas waktu Mei 2026. Jika tidak dipenuhi, Indonesia berisiko diturunkan status pasarnya.
Kebijakan ini langsung memicu panic selling massal. Investor asing dan domestik berbondong-bondong menjual saham, terutama emiten-emiten yang sebelumnya diharapkan masuk atau naik bobot di indeks MSCI.
Seluruh sektor saham tertekan berat: sektor energi anjlok hingga 9,68%, basic materials minus 7,80%, properti 7,41%, dan hampir semua sektor lainnya merah.
Saham-saham berat seperti BBCA, BBRI, BREN, BYAN, dan DSSA menjadi pemberat utama indeks. Volume perdagangan melonjak tinggi mencapai miliaran saham dengan nilai transaksi puluhan triliun rupiah, menandakan likuiditas tetap ada tapi didominasi aksi jual.
BEI langsung mengaktifkan mekanisme trading halt pukul 13.43 WIB setelah IHSG minus 8% ke level 8.261,78, untuk meredam kepanikan dan memberi waktu pasar menenangkan diri. Setelah dibuka kembali, tekanan jual masih berlanjut hingga penutupan.
Bursa menyatakan akan terus berkoordinasi dengan OJK, pemerintah, dan MSCI untuk meningkatkan transparansi data free float melalui website BEI dan diskusi lanjutan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan ini sebagai “shock sesaat” dan memprediksi pemulihan dalam sepekan ke depan, asal tidak ada sentimen negatif baru.
Analis pasar seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menyebut reaksi pasar berlebihan, tapi sejalan dengan outlook teknikal bahwa IHSG rawan koreksi setelah rally sebelumnya.