JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kenaikan signifikan pada akhir perdagangan Kamis, mencerminkan sentimen positif yang turut melanda bursa-bursa utama di Asia dan dunia.
Sentimen global yang membaik, dipicu oleh kemajuan dalam pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dengan Jepang dan Uni Eropa, memberi dorongan kuat bagi pasar modal Indonesia.
IHSG ditutup menguat 61,67 poin atau naik 0,83 persen ke level 7.530,90. Sementara itu, indeks LQ45 yang merefleksikan kinerja saham-saham unggulan, juga mencatat kenaikan sebesar 9,36 poin atau 1,18 persen ke posisi 799,80.
Tren positif ini mengiringi reli bursa Asia yang turut bergerak naik, di tengah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global.
“Penguatan indeks seiring optimisme pelaku pasar terhadap perkembangan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Jepang, serta tanda-tanda positif dalam negosiasi dagang antara AS dan Uni Eropa (UE),” ungkap Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam catatan riset harian mereka.
Bursa Asia dan Global Menguat Kompak
Di kawasan Asia, sentimen investor juga tampak solid. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,66 persen, Shanghai Composite menguat 0,65 persen, Hang Seng naik 0,51 persen, dan Strait Times menanjak 0,91 persen.
Kenaikan serempak ini mencerminkan respons positif terhadap potensi penghapusan tarif sejumlah produk seperti pesawat, minuman keras, dan alat medis antara AS dan Eropa.
Dari sisi global, pelaku pasar turut menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 29–30 Juli mendatang, yang diprediksi akan mempertahankan suku bunga di tengah tekanan dari Presiden Donald Trump agar dilakukan pemangkasan.
Selain itu, kebijakan suku bunga European Central Bank (ECB) juga menjadi perhatian, dengan proyeksi tetap di level 2,15 persen meskipun inflasi masih menjadi risiko utama.
Sentimen Data Ekonomi Kawasan Eropa dan AS
Pelaku pasar mencermati data ekonomi manufaktur di berbagai negara maju.
Di Jerman, HCOB Manufacturing Flash bulan Juli diperkirakan meningkat tipis ke 49,4 dari bulan sebelumnya di 49.
Sedangkan di Inggris, indeks S&P Global Manufacturing PMI Flash diproyeksi naik menjadi 48 dari 47,7.
Di Amerika Serikat, indeks manufaktur untuk periode yang sama diperkirakan sedikit melemah menjadi 52,5 dari 52,9.
Meskipun beberapa indikator masih berada di wilayah kontraksi, harapan pemulihan tetap menjadi landasan kuat bagi investor untuk tetap optimis dalam jangka pendek.
Sektor Keuangan Pimpin Kenaikan, Kesehatan Terkoreksi
Kinerja sektor-sektor di Bursa Efek Indonesia menunjukkan dinamika yang bervariasi. Sektor keuangan menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 3,10 persen.
Diikuti sektor industri dan sektor barang baku yang masing-masing naik 0,39 persen dan 0,35 persen.
Namun, tujuh sektor lainnya terkoreksi, dengan sektor kesehatan memimpin pelemahan sebesar 0,74 persen.
Sektor teknologi dan energi juga melemah masing-masing 0,62 persen dan 0,52 persen.
Saham-Saham Teraktif dan Nilai Transaksi Tinggi
Di tengah euforia pasar, saham-saham seperti VERN, NICL, ARGO, FMII, dan SMMA mencatat kenaikan harga tertinggi.
Sementara itu, PANR, SHID, WIRG, KOKA, dan VTNY menjadi deretan saham yang mengalami penurunan paling signifikan.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup aktif dengan frekuensi 1.646.462 kali transaksi.
Volume saham yang diperdagangkan mencapai 26,27 miliar lembar dengan total nilai transaksi sebesar Rp16,41 triliun.
Komposisi pasar memperlihatkan 302 saham menguat, 308 saham melemah, dan 192 stagnan.
Penutup: Fokus Pasar Kini Tertuju pada Bank Sentral
Pasar keuangan Indonesia sedang berada dalam posisi yang cukup stabil namun dinamis, mengikuti arah global.
Fokus saat ini tertuju pada kebijakan moneter The Fed dan ECB, yang dapat menentukan arah tren investasi ke depan.
Untuk jangka pendek, kekuatan IHSG akan bergantung pada kombinasi antara perkembangan geopolitik, data ekonomi, dan arah kebijakan suku bunga.***