JAKARTA – Pasar saham Indonesia memulai pekan dengan optimisme terbatas.
Hal ditandai dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau di sesi pertama hari ini Senin (5/1/2026).
Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG pada level 8.769,95, naik dari penutupan pekan lalu di 8.748, seiring aliran dana asing yang mencatat net buy Rp1,14 triliun.
Saham BUMI, BRMS, GOTO, MBMA, dan PNLF menjadi primadona investor global, mendorong IHSG terus menguat hingga penutupan sesi siang pada 12.00 WIB ke level 8.796,37, meningkat 48,23 poin atau 0,55 persen.
Pergerakan positif juga tercermin pada indeks LQ45 yang naik 0,29 persen ke posisi 854,50, menandakan optimisme terbatas di saham-saham blue chip.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menilai IHSG berpeluang mempertahankan tren penguatan sepanjang hari jika mampu menembus level resistansi 8.750.
Tim analis BNI Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada pada rentang 8.500–8.660, sedangkan resistansi aman berada di kisaran 8.820–8.850.
Ketegangan geopolitik akibat aksi militer Amerika Serikat di Venezuela menjadi perhatian utama, karena potensi tekanan jual dari investor asing dapat memengaruhi arah IHSG.
“IHSG berisiko terimbas sentimen negatif jika terjadi tekanan jual terhadap investor asing,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Senin.
Kondisi global mendorong investor mencari aset aman seperti dolar AS dan emas untuk mengurangi risiko volatilitas pasar.
Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik berpotensi memberi keuntungan bagi sektor energi dan saham komoditas yang terkait, menarik perhatian investor domestik maupun internasional.
Data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan tenaga kerja, manufaktur, dan Michigan Consumer Confidence, juga menjadi faktor yang memengaruhi sentimen global dan pergerakan IHSG.
Di dalam negeri, investor menantikan rilis data inflasi, ekspor-impor, dan neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik, sebagai indikator kunci bagi tren pergerakan IHSG selanjutnya.***