JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan kompleks rumah ibadah di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Minggu (11/1/2026) guna memastikan percepatan fasilitas keagamaan berjalan sesuai visi kebangsaan.
Peninjauan tersebut menegaskan komitmen pemerintah menjadikan rumah ibadah di IKN bukan sekadar sarana ritual, melainkan pusat spiritualitas nasional yang merepresentasikan harmoni dan persatuan umat beragama.
Dalam tahap pembangunan saat ini, dua bangunan utama yakni Masjid Negara dan Gereja Basilika menjadi fokus utama pengerjaan sebagai fondasi awal kawasan religius terpadu di jantung ibu kota baru.
Menag menegaskan bahwa kawasan ini ke depan akan berkembang menjadi kompleks rumah ibadah lintas agama yang inklusif dan saling berdampingan.
“Saat ini Masjid Negara dan Basilika sedang berproses. Ke depannya, seluruh rumah ibadah lintas agama mulai dari Gereja Kristen, Vihara, Kuil, hingga Pura besar akan dibangun dalam satu kawasan yang berdekatan,” ujar Menag dikutip dari laman Kemenag.
Kepala Petugas Konstruksi Evry menjelaskan bahwa desain kawasan ini memang dirancang sejak awal untuk menghadirkan simbol nyata toleransi dengan menempatkan seluruh rumah ibadah agama besar secara harmonis dalam satu area.
“Tahap awal memang dua bangunan ini, namun rencana besar mencakup Klenteng besar, Vihara, dan Pura yang semuanya terintegrasi,” tambahnya.
Dari sisi progres fisik, pembangunan Masjid Negara telah mencapai sekitar 90 persen dengan kapasitas daya tampung hingga 60.000 jemaah.

Masjid ini menampilkan menara setinggi 99 meter yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna sebagai simbol spiritualitas Islam yang kuat dan berkarakter.
Sementara itu, Gereja Basilika juga menunjukkan kemajuan signifikan dengan rancangan arsitektur berbentuk salib yang dapat terlihat jelas dari sudut pandang udara.
Gereja tersebut dirancang menampung sekitar 1.600 umat dan dilengkapi beragam fasilitas pendukung seperti Wisma Uskup, Jalan Salib, Taman Goa Maria, serta Gedung Kolaborasi Lintas Agama.
Dalam kunjungan tersebut, Menag turut memberikan masukan teknis terkait estetika bangunan, termasuk penambahan ornamen dinding dan penguatan tata cahaya agar nuansa spiritual semakin terasa.
Menag menilai sentuhan artistik pada pencahayaan dan detail arsitektur akan memperkuat fungsi rumah ibadah sebagai ruang refleksi dan persatuan.
Menag berharap seluruh fasilitas keagamaan ini dapat segera diselesaikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta aparatur yang mulai beraktivitas di IKN.
“Kami berharap pembangunan ini berjalan lancar dan segera selesai. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan.”
“Harapannya, jika sudah rampung, masyarakat bisa langsung memanfaatkannya untuk beribadah dan memperkuat ukhuwah di lingkungan IKN,” pungkasnya.
Keberadaan kompleks rumah ibadah di IKN diproyeksikan menjadi representasi konkret Indonesia modern yang menjunjung tinggi toleransi, moderasi beragama, dan kebersamaan dalam keberagaman.***