JAKARTA – Dunia perfilman Amerika berduka atas kepergian Diane Keaton, aktris eksentrik pemenang Academy Award yang memikat hati jutaan penonton lewat perannya sebagai pacar pemalu Woody Allen dalam komedi romantis “Annie Hall” tahun 1977. Keaton, yang dikenal dengan gaya androgini, sweter turtleneck, dan topi khasnya, meninggal dunia di usia 79 tahun, seperti dikonfirmasi oleh penerbit Rizzoli dalam pernyataan resmi. Mereka menyebutnya sebagai “ikon yang pengaruhnya melintasi film, fashion, dan desain.”
Keaton tampil dalam lebih dari 60 film, termasuk trilogi “The Godfather” sebagai Kay Adams, kekasih Al Pacino; “The First Wives Club“; serta delapan kolaborasi ikonik dengan Woody Allen seperti “Sleeper“, “Love and Death“, dan “Manhattan“. Gaya pribadinya yang unik membuatnya menonjol di Hollywood, menginspirasi tren mode yang bertahan hingga kini.
“Annie Hall“: Fondasi Karier Legendaris
Film “Annie Hall“, yang terinspirasi dari hubungan nyata Keaton dengan Allen, melambungkan namanya sebagai aktris ulung. “Itu adalah versi idealisasi dari diriku,” ujar Keaton dalam wawancara CBS News tahun 2004, dilansir dari Reuters, Minggu (12/10/2025). Perannya sebagai Annie yang ceria dengan frasa khas “la-dee-da, la-dee-da, la-la” membawanya ke sampul majalah Time pada September 1977, bersamaan dengan penampilan dramatisnya di “Looking for Mr. Goodbar“. Rolling Stone bahkan membandingkannya dengan Katharine Hepburn sebagai “penerusnya” pada edisi 30 Juni tahun itu.
Keaton meraih nominasi Oscar aktris terbaik untuk “Reds” (1981) sebagai jurnalis Louise Bryant, “Marvin’s Room” (1996) sebagai bibi penyayang Leonardo DiCaprio, dan “Something’s Gotta Give” (2003) beradu akting dengan Jack Nicholson. Empat puluh tahun kemudian, Allen menghormatinya saat menerima American Film Institute Life Achievement Award: “Sejak bertemu dengannya, dia menjadi inspirasi besar. Banyak pencapaianku berkat dia. Dia luar biasa.”
Dari Panggung Broadway ke Sutradara dan Aktivis
Lahir sebagai Diane Hall di Los Angeles pada 5 Januari 1946, Keaton mengadopsi nama ibunya untuk menghindari kebingungan dengan aktris lain. Setelah belajar di Neighborhood Playhouse New York dan tampil di musikal Broadway “Hair” (1968)—di mana ia menolak adegan telanjang meski pemalu—nasibnya berubah saat mengaudisi untuk “Play It Again, Sam” karya Allen. Kolaborasi itu memicu romansa, persahabatan seumur hidup, dan nominasi Tony.
Francis Ford Coppola memilihnya untuk “The Godfather” setelah terpesona dengan penampilannya yang gugup di “Lovers and Other Strangers“. Kariernya berevolusi dari peran gadis polos ke wanita karier matang, berkat sutradara Nancy Meyers dalam film seperti “Baby Boom” (1987) dan “Father of the Bride” (1991). Keaton juga menyutradarai film, episode TV, dan video musik Belinda Carlisle, serta nominasi Emmy untuk “Amelia Earhart: The Final Flight” (1995).
Di luar layar, ia penulis, produser, fotografer, dan penggila restorasi mansion California. Memoar “Then Again” (2011) ungkap perjuangannya melawan bulimia di usia 20-an, sementara “Let’s Just Say It Wasn’t Pretty” (2014) ceritakan kisah hidupnya. Meski tak pernah menikah, romansa glamornya dengan Allen (era 20-an), Warren Beatty (“Reds“), dan Al Pacino (“The Godfather“) jadi legenda. “Mereka masing-masing mendominasi dekade berbeda,” katanya pada The Telegraph 2013. Ia tetap setia pada Allen meski kontroversi tuduhan pelecehan dari putri angkatnya—yang Allen bantah dan tak pernah divonis.
Keaton mengadopsi dua anak, Dexter dan Duke, di usia 50-an, yang memberinya “tujuan hidup sesungguhnya”. “Mereka adalah mukjizat,” ujarnya pada CBS News, mengubah pandangannya dari fokus diri ke keluarga.
Kepergian Keaton meninggalkan warisan abadi: dari ikon mode hingga aktris serba bisa yang menantang norma Hollywood. Seperti kata Allen, ia adalah “inspirasi besar” yang pengaruhnya tak lekang waktu.