Australia kini berada di ambang kelumpuhan total akibat krisis energi yang kian mencekam. Hanya dalam hitungan hari, jumlah SPBU yang kehabisan stok bahan bakar melonjak drastis hingga menyentuh angka 500 titik. Pemandangan antrean panjang dan papan pengumuman “Bensin Habis” kini menjadi wajah baru di berbagai negara bagian Australia.
Situasi energi di Australia memburuk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan terbaru pada Kamis (26/3/2026), jumlah SPBU yang melaporkan kekosongan stok melonjak dari 225 titik menjadi 470 titik. Laporan ABC News mengonfirmasi bahwa setidaknya ada satu jenis bahan bakar yang benar-benar menghilang dari pasaran di ratusan lokasi tersebut.
Negara bagian Victoria disebut sebagai kawasan yang paling terdampak, disusul oleh Queensland dan New South Wales yang mulai merasakan dampak domino dari meroketnya harga minyak dunia.
Respons Cepat PM Anthony Albanese
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Perdana Menteri Anthony Albanese langsung menarik tuas darurat. Rapat kabinet nasional telah digelar, dan pertemuan kedua bersama para pemimpin negara bagian dijadwalkan pekan depan untuk menyusun koordinasi tempur melawan krisis.
“Koordinasi nasional sangat krusial agar kita memiliki langkah yang konsisten di seluruh wilayah,” tegas Albanese di parlemen.
Krisis ini bukan tanpa sebab. Lonjakan harga dan terhambatnya pasokan merupakan dampak langsung dari keberanian Iran memblokade Selat Hormuz, jalur nadi distribusi minyak dunia. Akibatnya, biaya energi membengkak, mengganggu sektor industri, dan mengancam kenaikan harga kebutuhan pokok secara masif.
Panic Buying vs Strategi Distribusi
Pemerintah Australia mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Menurut otoritas setempat, kondisi ini diperparah oleh lonjakan permintaan yang mendadak, bukan sekadar masalah pasokan.
Di sisi lain, pemimpin oposisi Angus Taylor melontarkan kritik pedas. Ia mendesak pemerintah untuk segera memindahkan stok BBM dari wilayah yang masih aman ke SPBU di titik-titik kritis. “Jika stoknya ada, jawabannya sederhana: segera pindahkan ke SPBU yang sudah kering!” ujarnya kepada Channel Nine.
Saat ini, pemerintah tengah menggodok berbagai opsi ekstrem untuk meredam gejolak, mulai dari:
-
Penjatahan BBM bagi kendaraan pribadi.
-
Pemotongan pajak bahan bakar untuk menekan harga.
-
Gratifikasi transportasi umum berbasis listrik atau non-BBM guna mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.