JAKARTA – Kondisi keuangan pemerintah Amerika Serikat (AS) memasbabkan sorotan tajam setelah laporan keuangan konsolidasi tahun fiskal 2025 menunjukkan ketimpangan ekstrem antara aset dan liabilitas.
Data resmi Departemen Keuangan AS per 30 September 2025 mencatat total aset sebesar US$ 6,06 triliun, sementara total kewajiban melonjak hingga US$ 47,78 triliun—atau hampir delapan kali lipat dari nilai aset yang dimiliki.
Ekonom Steve H Hanke menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar estimasi pesimistis, melainkan cerminan langsung dari angka-angka dalam laporan keuangan konsolidasi pemerintah.
“Kesimpulan itu berasal langsung dari laporan keuangan konsolidasi pemerintah,” ujarnya merujuk pada dokumen resmi yang dirilis.
Defisit neraca pemerintah AS tercatat semakin dalam, mencapai minus US$ 41,72 triliun pada tahun fiskal 2025. Angka ini memburuk sekitar US$ 2,07 triliun dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Dua penyumbang terbesar lonjakan kewajiban adalah utang federal berikut bunga yang harus dibayar, yang mencapai US$ 30,33 triliun, serta kewajiban manfaat bagi pegawai dan veteran sebesar US$ 15,47 triliun.
Beban Jangka Panjang yang Tersembunyi
Sejumlah pengamat menyoroti bahwa laporan utama belum sepenuhnya mencerminkan tekanan fiskal jangka panjang. Kewajiban program jaminan sosial seperti Social Security dan Medicare, yang dicatat secara terpisah dalam laporan tambahan, menunjukkan angka yang jauh lebih besar.
Kewajiban program jaminan sosial yang belum didanai melonjak US$ 10,1 triliun menjadi US$ 88,4 triliun pada tahun fiskal 2025. Lonjakan terbesar berasal dari defisit proyeksi Medicare Part B sebesar US$ 6,9 triliun dan Social Security sebesar US$ 2,5 triliun.
Jika seluruh kewajiban pemerintah federal digabungkan, totalnya mencapai lebih dari US$ 136,2 triliun—angka yang setara dengan sekitar lima kali produk domestik bruto (PDB) tahunan Amerika Serikat. Kesenjangan fiskal jangka panjang pun melebar dari 4,3 persen terhadap PDB pada 2024 menjadi 4,7 persen pada 2025.
Analogi Keuangan Rumah Tangga
Untuk memudahkan pemahaman publik, kondisi fiskal tersebut kerap dianalogikan seperti keuangan rumah tangga. Dalam ilustrasi tersebut, pemerintah AS diibaratkan memiliki pendapatan tahunan US$ 52.446, tetapi pengeluaran mencapai US$ 73.378, sehingga mengalami defisit tahunan sekitar US$ 20.932.
Sementara itu, total kewajiban dan janji yang belum didanai mencapai US$ 1.361.788, sementara aset hanya sebesar US$ 60.554. Dengan kata lain, terdapat kekurangan sekitar US$ 1,3 juta. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah dinilai tidak lagi memenuhi kriteria solvabilitas menurut standar akuntansi.
Opini Audit dan Langkah Legislatif
Pemerintah AS kembali menerima disclaimer of opinion dari Government Accountability Office untuk ke-29 kalinya secara berturut-turut. Status ini menegaskan bahwa auditor tidak dapat memastikan kewajaran laporan keuangan pemerintah, terutama akibat pengelolaan keuangan di Departemen Pertahanan serta kelemahan pencatatan transaksi antarinstansi.
Sejumlah langkah legislatif pun diusulkan untuk mengatasi tekanan fiskal yang terus meningkat. Salah satunya adalah pengesahan RUU Fiscal Commission Act yang bertujuan membentuk komisi fiskal bipartisan guna merumuskan langkah pemulihan kesehatan fiskal.
Selain itu, wacana amandemen konstitusi melalui mekanisme Article V Convention juga mengemuka. Usulan tersebut mencakup penetapan aturan tanggung jawab fiskal, termasuk kewajiban anggaran berimbang dalam siklus ekonomi serta pembatasan pertumbuhan belanja pemerintah.
Para pengamat menilai langkah-langkah tersebut sebagai upaya paling realistis untuk meredam tekanan fiskal jangka panjang. Namun, implementasinya dinilai sangat bergantung pada kemauan politik di Kongres AS yang masih terbelah dalam sejumlah isu fiskal strategis.