Sebagian orang tua sering kali memilih obat bahan alam, produk herbal, atau jamu tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh maupun meredakan sakit pada anak. Selain harganya relatif terjangkau dan mudah didapat, bahan alami kerap dianggap lebih aman tanpa efek samping.
Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan para orang tua untuk tidak sembarangan memberikan herbal kepada Si Kecil. Produk alami memiliki batasan usia serta kondisi medis tertentu yang wajib dipatuhi.
“Obat Bahan Alam telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia. Namun, untuk anak, penggunaannya perlu lebih cermat,” tulis BPOM melalui akun Instagram resminya @bpom_ri.
Aturan Dasar Usia: Kapan Anak Boleh Konsumsi Herbal?
BPOM dan American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan aturan ketat terkait usia anak:
-
Bayi Usia 0–6 Bulan: Dilarang keras mengonsumsi obat herbal, jamu, atau makanan tambahan apa pun. Sistem pencernaan bayi di bawah 6 bulan belum siap dan hanya boleh menerima ASI atau susu formula.
-
Anak Usia di Atas 6 Bulan: Jamu atau obat bahan alam baru boleh diperkenalkan secara bertahap bersamaan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Risiko Efek Samping: Pemberian obat herbal yang tidak tepat berisiko memicu reaksi alergi, infeksi, kejang, interaksi obat resep, hingga keracunan logam berat (seperti merkuri atau timbal) dari produk ilegal.
Daftar Herbal Populer dan Batasan Penggunaannya
Berikut adalah beberapa bahan alam yang sering digunakan beserta catatan keamanan dari BPOM:
1. Madu
Punya manfaat membantu menjaga kadar gula darah, memperkuat daya tahan tubuh, serta meredakan batuk dan pilek. Madu dilarang untuk bayi di bawah usia 1 tahun (berisiko botulisme). Waspadai penggunaannya pada anak dengan riwayat alergi produk lebah.
2. Ginkgo Biloba
Berpotensi meningkatkan fungsi kognitif dan daya ingat. Tidak disarankan untuk anak di bawah 12 tahun, ibu hamil, dan menyusui. Dilarang dikonsumsi bersamaan dengan obat pengencer darah serta wajib dihentikan 2 minggu sebelum operasi.
3. Herbal Mengandung Kafein (Teh Hitam/Hijau, Kopi, Cokelat Hitam)
Mengandung antioksidan tinggi, namun sangat tidak dianjurkan untuk anak-anak, ibu hamil, serta penderita hipertensi dan diabetes.
4. Jahe
Meredakan mual dan menghangatkan tubuh. Belum ada bukti klinis yang cukup mengenai batas keamanan dosis jahe pada anak. Penggunaan dosis tinggi berisiko menyebabkan nyeri ulu hati, sakit lambung, dan diare.
Tips Aman Pilih Obat Herbal untuk Anak (Cek KLIK)
Sebelum memberikan produk herbal kepada anak, BPOM membagikan empat langkah krusial yang wajib diterapkan orang tua:
-
Lakukan Cek KLIK: Pastikan memeriksa Kemasan (utuh), Label (jelas), Izin edar BPOM, dan tanggal Kedaluwarsa.
-
Jaga Higienitas: Jika membeli jamu segar/gendong, pastikan proses pembuatan dan peralatannya benar-benar bersih.
-
Hentikan Jika Ada Reaksi Negatif: Langsung hentikan penggunaan jika anak menunjukkan gejala mual, muntah, diare, atau ruam alergi.
-
Konsultasi Dokter: Selalu diskusikan dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu jika anak sedang mengonsumsi obat resep lain.