JAKARTA – Abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian karena dapat terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah. Paparan abu vulkanik tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
- 1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
- 2. Gunakan Masker Saat Harus Keluar
- 3. Lindungi Mata dengan Kacamata
- 4. Tutup Jendela dan Ventilasi Saat Abu Masuk
- 5. Bersihkan Rumah dengan Cara yang Tepat
- 6. Bersihkan Diri Setelah Beraktivitas di Luar
- 7. Lindungi Makanan dan Air Minum
- 8. Hindari Olahraga Berat di Luar Ruangan
- 9. Perhatikan Kelompok yang Lebih Rentan
- 10. Segera Periksa Jika Muncul Keluhan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus bepergian, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari untuk mengurangi risiko terkena abu vulkanik?
1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Langkah paling sederhana adalah mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu sedang tinggi.
Jika tidak ada keperluan mendesak, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Aktivitas seperti olahraga di luar ruangan, nongkrong, atau bepergian yang tidak penting dapat ditunda hingga kondisi udara membaik.
Kemenkes menyebut paparan abu vulkanik dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan masalah pada kulit.
2. Gunakan Masker Saat Harus Keluar
Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu perlindungan penting.
Masker yang menutup hidung dan mulut dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup. BMKG juga merekomendasikan penggunaan masker berfilter seperti N95 atau KF94 ketika kualitas udara sedang buruk.
Pastikan masker terpasang dengan baik dan menutup hidung, mulut, hingga dagu. Jangan sering membuka atau menurunkan masker selama berada di area yang masih terpapar abu.
3. Lindungi Mata dengan Kacamata
Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata. Karena itu, penggunaan kacamata ketika harus berada di luar ruangan dapat menjadi perlindungan tambahan.
Kemenkes secara khusus menyarankan masyarakat menggunakan kacamata selain masker ketika harus keluar rumah di tengah paparan abu vulkanik.
Hindari mengucek mata apabila terasa kemasukan abu. Sebaiknya bilas menggunakan air bersih. Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata karena dapat memperparah iritasi.
4. Tutup Jendela dan Ventilasi Saat Abu Masuk
Berada di dalam rumah bukan berarti otomatis terbebas dari abu vulkanik. Partikel abu dapat masuk melalui jendela, pintu, maupun celah ventilasi.
Karena itu, ketika kondisi di luar sedang dipenuhi abu, tutup jendela dan pintu untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam rumah. BMKG juga menyarankan menutup jendela ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan air purifier jika tersedia.
5. Bersihkan Rumah dengan Cara yang Tepat
Abu vulkanik yang menempel di lantai, meja, kendaraan, atau perabotan sebaiknya tidak dibersihkan dengan cara asal menyapu karena justru dapat membuat partikel kembali beterbangan.
Panduan Kemenkes menyarankan pembersihan menggunakan kain lembap, air, dan deterjen. Penggunaan vacuum cleaner juga dianjurkan untuk sejumlah permukaan dan benda rumah tangga.
Sebelum membersihkan abu, gunakan masker untuk mencegah partikel terhirup.
6. Bersihkan Diri Setelah Beraktivitas di Luar
Jika harus keluar rumah, jangan langsung beraktivitas seperti biasa setelah kembali.
Kemenkes menyarankan masyarakat membersihkan tubuh dan pakaian setelah berada di luar karena partikel abu vulkanik memiliki karakter tajam dan dapat menempel pada tubuh maupun pakaian.
Mandi dan mengganti pakaian juga dapat membantu mengurangi abu yang terbawa masuk ke dalam rumah.
7. Lindungi Makanan dan Air Minum
Abu vulkanik yang menempel pada makanan atau masuk ke tempat penampungan air juga perlu diwaspadai.
Masyarakat disarankan menutup wadah air dan makanan agar tidak terkena abu secara langsung. Buah dan sayuran yang akan dikonsumsi juga perlu dicuci terlebih dahulu.
Kemenkes sebelumnya juga memasukkan perlindungan sumber air serta kebersihan makanan sebagai bagian dari langkah pencegahan dampak kesehatan akibat letusan gunung berapi.
8. Hindari Olahraga Berat di Luar Ruangan
Ketika udara sedang dipenuhi abu atau kualitas udara memburuk, olahraga di luar ruangan sebaiknya ditunda.
Aktivitas fisik membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam sehingga lebih banyak udara, termasuk partikel pencemar, dapat masuk ke saluran pernapasan. BMKG menyarankan menghindari olahraga di luar ruangan ketika polusi udara sedang tinggi.
9. Perhatikan Kelompok yang Lebih Rentan
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis perlu mendapatkan perhatian lebih selama terjadi paparan abu vulkanik.
Kemenkes meminta kelompok rentan tersebut mengurangi paparan dan segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami keluhan kesehatan.
10. Segera Periksa Jika Muncul Keluhan
Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai keluhan, mulai dari batuk, iritasi mata dan kulit hingga gangguan pernapasan.
Jika muncul gejala seperti sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada, atau iritasi yang tidak kunjung membaik, masyarakat dianjurkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan beberapa langkah sederhana tersebut, risiko paparan abu vulkanik dalam aktivitas sehari-hari dapat dikurangi. Masyarakat juga sebaiknya terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan erupsi dan kondisi kualitas udara sebelum memutuskan untuk beraktivitas di luar rumah.