JAKARTA — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga Sabtu (5/9) pagi tidak berpotensi memicu tsunami. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius tiga kilometer.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran, Banten. Erupsi bahkan masih disertai suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan.
Selain suara dentuman dan gemuruh, petugas juga mengamati pancaran berwarna merah dari arah gunung yang menunjukkan adanya lontaran atau aliran lava pijar.
“Sampai saat ini pun, kita masih memantau masih terjadi erupsi di Gunung Api Anak Krakatau ini, masih terdengar, masih ada erupsi. Nah, di pagi hari memang di pos pengamatan, kami mengamati juga terdengar suara gemuruh dari pos PGA Krakatau Pasauran,” ujar Rita dalam keterangan pers secara daring, Sabtu (5/9).
Rita menjelaskan, kondisi cuaca membuat tinggi kolom abu vulkanik belum dapat diamati secara jelas. Namun, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, aktivitas erupsi masih berlangsung secara menerus.
PVMBG menyebut aktivitas tersebut merupakan bagian dari dinamika Gunung Anak Krakatau sebagai gunung api aktif. Pemantauan terhadap perkembangan erupsi terus dilakukan untuk mengetahui perubahan aktivitas dan potensi bahaya yang mungkin muncul.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III
Di tengah aktivitas erupsi tersebut, status Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Status tersebut telah diberlakukan sejak terjadi peningkatan aktivitas pada 2 Juli 2026 dan masih dipertahankan berdasarkan hasil evaluasi terbaru PVMBG.
Pada kondisi saat ini, potensi bahaya yang menjadi perhatian utama bukan berasal dari tsunami. Ancaman lebih berkaitan dengan material vulkanik yang dapat keluar dari tubuh gunung saat erupsi berlangsung.
“Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Api Anak Krakatau masih dalam level 3 siaga. Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar,” kata Rita.
Karena itu, PVMBG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung, terutama pada area yang masuk dalam zona bahaya.
PVMBG: Erupsi Saat Ini Tak Berpotensi Picu Tsunami
Kekhawatiran mengenai potensi tsunami kembali muncul seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari sejarah erupsi Krakatau yang pernah menimbulkan tsunami besar.
Namun, PVMBG memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan kondisi sebelum peristiwa longsoran yang terjadi pada Desember 2018.
Berdasarkan hasil evaluasi PVMBG, tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi dan longsoran pada 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai tidak memungkinkan terjadinya keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
“Hasil evaluasi kami, pertumbuhan tubuh gunung anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Oleh karena itu masyarakat tidak usah khawatir, insya Allah perkembangan ini tidak memicu terjadinya tsunami,” ujar Rita.
Dengan evaluasi tersebut, masyarakat diminta tidak panik menyikapi aktivitas erupsi yang terjadi. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengikuti seluruh rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG.
Dentuman Terdengar dari Jawa Barat
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam juga mendapat perhatian setelah suara dentuman dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah di Jawa Barat. Selain suara tersebut, sejumlah warga juga melaporkan adanya getaran ringan.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri tercatat dalam sistem pemantauan Magma Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
PVMBG menegaskan masyarakat, wisatawan, nelayan maupun pihak lain tidak diperbolehkan mendekati kawasan kawah aktif. Radius tiga kilometer dari kawah menjadi wilayah yang harus dihindari karena berpotensi terdampak material erupsi.
PVMBG bersama pihak terkait juga terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, baik melalui pengamatan visual maupun data kegempaan.
Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi terkait perkembangan erupsi maupun potensi tsunami.