Di bawah hujan drone dan rudal yang terus menghantui Uni Emirat Arab (UEA), sebuah fenomena unik terjadi di layar ponsel jutaan orang. Pasukan influencer media sosial di Dubai secara serentak mengubah haluan: dari kepanikan massal menjadi patriotisme yang sangat terkurasi.
Rekaman mentah bola api di langit kini lenyap, digantikan dengan video gerak lambat yang menampilkan para pemimpin negara berbelanja santai atau keluarga yang asyik menyesap kopi di kafe-kafe mewah.
Dari “Jurnalis Warga” Menjadi “Duta Ketentraman”
Awalnya, saat konflik pecah pada 28 Februari lalu, para influencer bertindak sebagai mata dunia. Will Bailey, seorang influencer kebugaran, sempat mengunggah asap yang mengepul di dekat Palm Jumeirah dengan nada panik. Namun, hanya dalam hitungan hari, konten tersebut menguap.
Kini, setiap kali pengikut mereka bertanya, “Apakah kamu tidak takut di Dubai?”, mereka merespons dengan pemandangan kota yang sempurna dan jaminan keamanan yang seragam.
Perubahan drastis ini tidak terjadi secara kebetulan; Jaksa Agung UEA telah mengeluarkan peringatan keras bahwa menyebarkan konten yang bertentangan dengan pernyataan resmi bisa berujung pada penjara dua tahun dan denda hingga Rp850 juta.
Taruhan Ekonomi di Balik Citra “Surga”
Bagi Dubai, citra adalah segalanya. Ekonomi yang bergantung pada kemegahan ini sedang dipertaruhkan. World Travel & Tourism Council memperkirakan konflik ini membakar dana setidaknya $600 juta per hari akibat hilangnya belanja wisatawan.
Meski Kementerian Pertahanan mengklaim telah mencegat ribuan ancaman udara, realitanya tidak selalu mulus:
-
Bandara Internasional Dubai: Sudah dihantam serangan drone sebanyak empat kali, memaksa penangguhan penerbangan selama berjam-jam.
-
Burj Al Arab: Ikon dunia ini mengalami kerusakan eksterior akibat serpihan peluru pencegat.
-
Tindakan Keras: Setidaknya 21 orang, termasuk seorang turis Inggris, telah ditahan karena merekam kejadian di area publik.
Antara Propaganda dan Bertahan Hidup
Para kritikus menyebut fenomena ini sebagai “kampanye PR” yang tidak peka untuk menormalisasi perang di mata dunia. Deutsche Welle bahkan menggambarkan postingan liburan “tanpa rasa takut” di tengah serangan rudal sebagai tindakan yang tidak sensitif.
Namun, bagi sebagian penduduk yang memilih bertahan, kehidupan berlanjut dalam dualitas yang aneh. “Ke gym pagi ini, BBQ sore ini,” tulis seorang warga kepada rekannya. Bagi mereka, ini hanyalah “hari biasa di surga,” meski surga tersebut kini memiliki sistem pertahanan udara yang bekerja lembur di atas kepala mereka.