JAKARTA – Penumpang pesawat diwajibkan membuka penutup jendela pesawat sebelum lepas landas dan mendarat. Imbauan ini kerap disampaikan oleh pramugari, dan bukan sekadar aturan prosedural, melainkan menyangkut aspek keselamatan.
Meski sebagian penumpang merasa terganggu karena cahaya masuk ke kabin saat ingin beristirahat, awak kabin menegaskan bahwa jendela harus tetap terbuka untuk memudahkan evaluasi kondisi di luar pesawat jika terjadi situasi darurat.
“Mengapa awak kabin meminta membuka tirai jendela saat lepas landas dan mendarat? Untuk alasan keselamatan. Ini memungkinkan kami untuk mengevaluasi kondisi luar secepat mungkin jika terjadi situasi darurat,” ujar seorang pramugari melalui akun media sosial @kiravokrugmira, dikutip dari Daily Mail, (7/7/2025).
Fase lepas landas dan pendaratan tergolong paling berisiko dalam penerbangan, menurut Reader’s Digest. Data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mencatat benturan ekor dan penyerobotan landasan pacu sebagai penyebab utama kecelakaan fatal pada tahun 2024, dengan 251 kematian dari tujuh insiden. Tahun 2025 pun menunjukkan tren gangguan penerbangan yang masih signifikan.
Tak hanya soal pengawasan darurat, membuka jendela juga memberi pilot bantuan visual tambahan dari awak kabin. Seperti dijelaskan Daniel Bubb, mantan pilot dan penulis Landing in Las Vegas: Commercial Aviation and the Making of a Tourist City, ada beberapa hal yang tidak dapat dilihat langsung oleh pilot dari kokpit.
“Pramugari dapat melihatnya dan memberi tahu pilot [tentang apa yang terjadi],” ujar Bubb, mencontohkan kasus seperti terbakarnya mesin pesawat yang lebih dulu diketahui awak kabin.
Solusi bagi penumpang yang tetap ingin beristirahat: gunakan penutup mata alih-alih menutup jendela.
Sabuk Pengaman Tetap Penting, Meski Awak Kabin Tak Wajib Mengenakannya
Selain membuka penutup jendela, awak kabin juga akan memastikan penumpang telah mengencangkan sabuk pengaman, menurunkan sandaran tangan, meluruskan sandaran kursi, dan menutup meja baki. Seluruh prosedur ini ditujukan untuk meminimalisir risiko cedera jika terjadi guncangan.
Berbeda dengan penumpang, awak kabin tidak diwajibkan mengenakan sabuk pengaman saat lepas landas dan mendarat. Mereka telah dibekali pelatihan untuk bergerak secara efisien di kabin saat terjadi turbulensi serta bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpang.