JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial setelah Presiden Donald Trump menggelar rapat tertutup bersama jajaran pejabat keamanan nasional di Gedung Putih.
Rapat tertutup ini dilakukan untuk menentukan arah kebijakan berikutnya terkait konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung pada Jumat (22/5/2025) waktu setempat itu berlangsung di tengah upaya diplomasi internasional yang masih berjalan alot demi mencari jalan keluar guna menghentikan perang dan mencegah eskalasi yang lebih luas.
Meski pembahasan dilakukan secara intensif, sumber internal menyebutkan belum ada keputusan final yang diambil Washington terkait kemungkinan melanjutkan operasi militer ataupun membuka jalur negosiasi baru dengan Teheran.
Di saat Amerika Serikat masih menimbang langkah strategis, sejumlah negara kawasan mulai bergerak melakukan pendekatan diplomatik untuk meredam situasi yang semakin tidak menentu.
Delegasi dari Qatar dan Pakistan diketahui tiba di Teheran guna membangun komunikasi langsung dengan pemerintah Iran demi mendorong penghentian konflik.
Media pemerintah Iran melaporkan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, mengadakan pembicaraan panjang dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas upaya mencegah perang meluas di kawasan.
Pertemuan lanjutan juga dilakukan bersama negosiator utama Iran, Mohammad Ghalibaf, yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah terhadap tekanan asing.
“Iran tidak akan mundur dari hak-hak bangsa dan negaranya, terutama ketika berhadapan dengan pihak yang tidak pernah menunjukkan ketulusan,” kata Ghalibaf dalam pernyataannya seperti dilansir CNN, Sabtu.
Ia bahkan menuduh Amerika Serikat mengkhianati proses diplomasi yang sebelumnya sedang berlangsung.
“Kami sedang berada di tengah negosiasi ketika Amerika memulai perang, lalu sekarang meminta negosiasi lagi untuk mengakhirinya,” ujar Ghalibaf.
Pernyataan keras juga dilontarkan pejabat Iran terkait ancaman kemungkinan perang baru apabila Washington kembali mengambil langkah agresif.
“Jika Trump melakukan kesalahan dengan memulai perang lagi, dampaknya akan jauh lebih menghancurkan bagi Amerika dibanding hari pertama konflik,” tegas Ghalibaf.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani turut memperingatkan Iran agar tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik karena berpotensi memperburuk krisis kawasan dan mengganggu kepentingan negara-negara regional.
Di Washington, Trump dikabarkan semakin frustrasi dengan lambatnya perkembangan pembicaraan damai yang hingga kini belum menunjukkan titik temu jelas antara kedua negara.
Presiden AS itu bahkan disebut telah menerima sejumlah opsi militer baru dari Pentagon terkait kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran.
Trump sebelumnya mengaku sempat hampir memberikan lampu hijau untuk operasi serangan baru beberapa hari lalu, namun akhirnya menunda keputusan tersebut setelah mendapat desakan dari negara-negara Teluk.
Situasi genting ini membuat Trump membatalkan rencana akhir pekannya ke New Jersey dan memilih tetap berada di Gedung Putih.
Bahkan, Trump memastikan dirinya tidak menghadiri pesta pernikahan putranya di Bahama demi fokus memantau perkembangan konflik Iran.
“Saya merasa penting untuk tetap berada di Washington selama periode yang sangat penting ini,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Rapat keamanan nasional tersebut turut dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Meski sejumlah pejabat Gedung Putih masih menunjukkan optimisme terhadap jalur diplomasi, hingga kini belum ada kepastian bagaimana Amerika Serikat dan Iran akan menyelesaikan berbagai poin sengketa yang masih menjadi hambatan utama perundingan.
Trump sendiri sebelumnya memberi sinyal batas waktu hingga awal pekan depan bagi Iran untuk mengajukan proposal baru yang dianggap layak guna mengakhiri konflik.***



