JAKARTA – Militer Israel melaporkan Iran meluncurkan gelombang rudal ke wilayahnya, memicu sirene serangan udara di Tel Aviv dan sejumlah kota lain. Ledakan terdengar akibat pencegatan, sementara rumah-rumah di Israel utara rusak oleh puing-puing. Tidak ada korban jiwa dilaporkan.
Serangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana menyerang jaringan listrik Iran, dengan alasan adanya “pembicaraan produktif” dengan pejabat Teheran. Namun klaim tersebut segera dibantah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. “Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak,” tulisnya di X.
Garda Revolusi Iran menegaskan serangan baru terhadap target AS, menyebut pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis” yang usang. Pasar global pun bergejolak: harga minyak Brent kembali naik 4,2% menjadi $104,21 per barel, setelah sempat anjlok di bawah $100 akibat pengumuman Trump.
Trump mengklaim utusan khususnya, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, telah melakukan diskusi intens dengan pejabat Iran. “Kami memiliki poin-poin kesepakatan utama, hampir semua poin kesepakatan,” katanya. Namun, pejabat Eropa menyebut komunikasi hanya berlangsung lewat negara ketiga seperti Mesir, Pakistan, dan Teluk.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan melanjutkan operasi militer di Lebanon dan Iran, meski Trump melihat peluang kesepakatan untuk mengakhiri perang. Iran sendiri masih menutup Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, sejak konflik pecah pada 28 Februari yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang.