TEHERAN, IRAN – Pemerintah Iran mengecam tajam ajakan perdamaian Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran, menyebutnya sebagai kontradiksi mencolok dengan agresi militer Washington baru-baru ini. Respons ini muncul pasca pidato Trump di parlemen Israel, di mana ia menawarkan “tangan persahabatan” sambil mengabaikan dampak serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran yang menewaskan ribuan warga sipil.
Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti inkonsistensi tersebut dalam pernyataan resminya. “Keinginan untuk perdamaian dan dialog yang disampaikan Presiden AS bertentangan dengan perilaku bermusuhan dan perilaku kriminal Amerika Serikat terhadap rakyat Iran,” demikian bunyi pernyataan itu, seperti dikutip AFP pada Selasa (14/10/2025).
Konflik ini bermula dari operasi militer Israel pada pertengahan Juni 2025, yang melibatkan pemboman intensif terhadap situs nuklir, instalasi militer, dan area pemukiman di Iran. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak tak bersenjata, serta melibatkan dukungan langsung AS melalui serangan udara ke fasilitas nuklir utama Teheran.
Perang singkat namun brutal selama 12 hari itu tidak hanya mengakibatkan korban jiwa puluhan orang di pihak Israel akibat balasan rudal dan drone Iran, tapi juga menghentikan negosiasi nuklir tingkat tinggi antara Iran dan AS. Gencatan senjata akhirnya diberlakukan sejak 24 Juni 2025, meninggalkan ketegangan yang masih membara di Timur Tengah.
Dalam pidato di Knesset pada Senin (13/10/2025), Trump menekankan kesiapan AS untuk berdamai. “Kami siap ketika Anda siap, dan ini akan menjadi keputusan terbaik yang pernah dibuat Iran, dan itu akan terjadi,” ujarnya, seperti dilansir Reuters. Ia melanjutkan, “Tangan persahabatan dan kerja sama terbuka. Saya mengatakan kepada Anda, mereka (Iran-red) ingin membuat kesepakatan… akan sangat bagus jika kita bisa membuat kesepakatan.”
Trump juga mendesak pemimpin Iran untuk “menolak teroris, berhenti mengancam tetangga mereka, berhenti mendanai proksi militan mereka, dan akhirnya mengakui hak Israel untuk eksis”, seraya menambahkan bahwa langkah itu akan “tidak ada yang lebih bermanfaat” bagi stabilitas regional.
Respons Keras Iran: Tuduhan Terorisme dan Genosida
Menanggapi langsung, Iran mempertanyakan kredibilitas AS melalui juru bicara kementerian luar negerinya. “Bagaimana mungkin satu pihak menyerang wilayah permukiman dan fasilitas nuklir suatu negara di tengah negosiasi politik, menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah, lalu menuntut perdamaian dan persahabatan?” tanya pernyataan itu.
Teheran lebih lanjut mengecam pernyataan Trump sebagai “tidak bertanggung jawab dan memalukan”, serta menuduh AS sebagai “produsen utama terorisme dan pendukung rezim Zionis yang merupakan teroris dan pelaku genosida”. “Amerika Serikat… tidak memiliki wewenang moral untuk menuduh pihak lainnya,” tegas pernyataan tersebut, menyoroti peran Washington dalam mendukung Israel yang dianggap sebagai akar ketidakstabilan.
Insiden ini memperburuk hubungan AS-Iran, yang sudah tegang sejak pembatalan kesepakatan nuklir 2015 di era Trump pertama. Pengamat internasional khawatir eskalasi lebih lanjut bisa memicu krisis energi global, mengingat peran strategis Iran di Teluk Persia.