TEHERAN – Pemerintah Iran memutuskan menunda pemakaman kenegaraan bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama tiga hari sambil menyiapkan rangkaian upacara penghormatan publik bagi masyarakat yang ingin memberikan salam perpisahan terakhir.
Pengumuman penundaan tersebut disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Kamis, 5 Maret 2026, meski otoritas tidak memberikan penjelasan rinci terkait alasan perubahan jadwal prosesi pemakaman tersebut.
Sebelumnya, pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dijadwalkan mulai berlangsung pada Rabu malam, 4 Maret 2026, namun pemerintah memutuskan menggesernya untuk memberikan ruang bagi rangkaian acara penghormatan publik yang lebih luas.
Khamenei yang wafat pada usia 86 tahun dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebagaimana dikonfirmasi oleh media resmi pemerintah Iran yang segera mengumumkan kabar duka tersebut kepada publik.
Kabar wafatnya tokoh yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade itu langsung memicu suasana duka nasional sekaligus meningkatkan perhatian terhadap dinamika politik yang kemungkinan terjadi setelah kepergiannya.
Seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa pemerintah tetap akan menyelenggarakan upacara publik agar masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi figur sentral dalam politik dan keagamaan negara tersebut.
Rangkaian upacara perpisahan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, sementara jadwal resmi prosesi pemakaman akan diumumkan oleh pemerintah setelah seluruh persiapan dinyatakan selesai.
Aula Salat Imam Khomeini di Teheran sebelumnya telah disiapkan sebagai lokasi utama pelaksanaan penghormatan terakhir bagi almarhum pemimpin tertinggi tersebut.
Selain itu, kawasan Mosalla di ibu kota Iran juga tetap dibuka bagi para pelayat yang ingin datang secara langsung untuk mengikuti rangkaian penghormatan publik.
“Mosalla (aula salat) akan menerima para pelayat dan masyarakat dapat hadir serta mengikuti upacara perpisahan dan sekali lagi menunjukkan kehadiran yang kuat,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media Iran.
Kematian Khamenei segera memunculkan sorotan luas terhadap proses suksesi kepemimpinan di Iran yang kini menjadi perhatian utama, baik di dalam negeri maupun di panggung politik internasional.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Khamenei meninggal dunia setelah serangan udara yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat, sebuah informasi yang langsung memicu ketegangan geopolitik baru di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat perkembangan politik Iran setelah wafatnya pemimpin tertinggi menjadi isu strategis yang terus dipantau oleh banyak negara dan pengamat internasional.***