JAKARTA – Iran mengumumkan telah menerima pendapatan pertama dari pungutan atas pengiriman barang melalui Selat Hormuz pada 23 April, di tengah ketegangan akibat perang AS–Israel yang mengguncang ekonomi global.
Ketidakpastian perundingan perdamaian membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan, harga minyak melonjak, dan indeks S&P Global PMI menunjukkan aktivitas bisnis zona euro menyusut untuk pertama kalinya dalam 16 bulan.
Teheran bersumpah tetap menutup jalur vital itu bagi semua kapal kecuali yang disetujui, selama AS memblokade pelabuhannya. Presiden Donald Trump sebelumnya menuntut Iran membuka kembali Hormuz dan menyerahkan uranium yang diperkaya, namun ditolak.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, “Gencatan senjata total hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan,” dilansir Hurriyet Daily News, Jumat (24/4/2026). Wakilnya, Hamidrez Hajibabei, menambahkan bahwa Iran telah menerima pendapatan pertama dari pungutan kapal yang melintas.
Analis menilai blokade memberi Iran pengaruh ekonomi untuk menekan Washington. Danny Citrinowicz dari Institut Studi Keamanan Nasional Tel-Aviv menulis, “Teheran secara konsisten menunjukkan kesediaan menanggung kesulitan ekonomi sambil tetap teguh pada kepentingan nasional inti. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa kali ini akan berbeda.”
Garda Revolusi Iran melaporkan memaksa dua kapal berlabuh di pantai Iran, yakni MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia. Lembaga pemantau maritim Inggris mengonfirmasi tiga kapal komersial melaporkan insiden dengan kapal perang di selat tersebut.
Sementara itu, Komando Pusat militer AS menyatakan pasukannya telah “mengarahkan 31 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan” selama blokade berlangsung.